Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang rawan disusupi praktik suap. Pemilihan pemimpin diharapkan mengutamakan pandangan nurani, bukan uang saku.
Ketua Umum Pengurus Pusat Jaringan Kyai Santri Nasional (PP JKSN) KH Asep Saifuddin Chalim meminta agar pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bersih dari praktik kecurangan dan kezaliman. Pernyataan ini merespons kian dekatnya perhelatan akbar tersebut yang bakal digelar pada akhir Agustus 2026.
Asep berharap pemilihan nakhoda baru NU berjalan secara adil, transparan, dan tanpa pengondisian peserta. “Bentuk-bentuk kezaliman itu misalnya antara lain menyekap para peserta. Ya menyekap itu dalam tanda kutip,” kata Asep pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Selain melarang pengondisian, Asep secara tegas menyoroti bahaya praktik risywah atau suap.
Menurut dia, kelompok tertentu kerap menggunakan uang untuk memengaruhi suara sehingga mencederai marwah organisasi. “Tidak boleh ada risywah. Karena kita sedang mengupayakan sebuah organisasi yang akan menjadi penopang bangsa dan negara,” ujarnya.
Trauma Kecurangan Terdahulu
Ihwal potensi kecurangan, Asep mengingatkan kembali pada pengalaman buruk saat perhelatan Muktamar di Jombang beberapa tahun silam. Saat itu, proses pemilihan pimpinan diduga kuat dimanipulasi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
Dia menuding ada pihak luar yang sengaja dikerahkan untuk memberikan suara fiktif. “Jangan sampai ada pemilihan, yang memilih bukan orangnya. Yang mencoblos itu bukan orang yang ada di luar disuruh masuk terus mencoblos. Saya tahu sendiri,” tuturnya.
Sebelumnya, santer beredar isu pembagian uang saku kepada para peserta demi meraup dukungan. Pemimpin Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu meminta para pemilih menggunakan bashirah atau pandangan hati nurani dalam menentukan pilihan.
Dia menolak keras praktik bisyarah alias pemberian uang saku bernilai fantastis. “Bukan bisyarah yang sekarang sudah diisukan ada yang Rp 50 juta, ada yang USD10.000 lah, ada yang macam-macam itu,” kata Asep.
Selain itu, Asep menyinggung adanya campur tangan pemodal tak terlihat yang memiliki agenda tersembunyi terhadap arah NU ke depan. “Tetapi ada orang yang memodali di balik mereka yang kepingin bahwa Indonesia ini hancur. Ditiadakan kelompok penopang ini,” pungkasnya. ***





