Penelitian University of Illinois Urbana-Champaign mengungkap keterikatan emosional terhadap mantan pasangan memiliki waktu paruh rata-rata empat tahun akibat proses adaptasi otak dan teori keterikatan.
Peneliti dari University of Illinois Urbana-Champaign, Jia Y. Chong dan R. Chris Fraley, menemukan seseorang rata-rata butuh empat tahun untuk mengurangi setengah tingkat keterikatan dengan mantan pasangan. Studi yang dipublikasikan pada (12/3/2025) dalam Jurnal Ilmiah Social Psychological and Personality Science ini melibatkan hampir 300 responden berstatus hubungan serius minimal dua tahun.
Laporan yang diulas Psychology Today ini mengonfirmasi sulit melupakan mantan bukan pertanda gagal beranjak. “Mantan pasangan masih dianggap sebagai sosok yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuk mencari dukungan emosional,” tulis para peneliti.
Ihwal temuan tersebut, banyak peserta studi mengaku masih berdorongan menghubungi mantan saat menghadapi masa sulit. Sebagian responden bahkan masih sering mengenang momen bersama hingga memimpikan mantan pasangan saat tidur.
Peneliti menggunakan konsep peluruhan fisika untuk mengukur proses memudarnya memori. Berdasarkan hasil studi, waktu paruh emosional berdurasi empat tahun. Hal ini berarti ikatan psikologis tidak langsung hilang saat hubungan resmi berakhir.
Teori Keterikatan dan Adaptasi Otak
Sebelumnya, psikologi menjelaskan fenomena ini melalui teori keterikatan. Hubungan romantis jangka panjang membentuk ikatan emosional mendalam. Hal itu menciptakan rasa aman, kepercayaan, dan kebiasaan berbagi pengalaman harian.
Para ahli menjelaskan otak manusia membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan besar interpersonal. Kondisi ini serupa dengan proses adaptasi emosional saat seseorang kehilangan pekerjaan atau berpindah tempat tinggal.
Selain itu, intensitas dan cara hubungan berakhir turut menentukan durasi pemulihan. Seseorang yang diputuskan secara sepihak atau memiliki pola keterikatan cemas biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima kenyataan.




