49 SD Tulungagung Hanya Dapat Maksimal Tiga Murid

Suasana MPLS salah satu SD di Tulungagung, Jawa Timur, yang sepi peminat. (Dok. Istimewa)

Hampir 90 persen SD di Tulungagung tak memenuhi pagu. Penurunan anak usia sekolah hingga persaingan dengan madrasah mulai mengubah peta pendidikan dasar.


Kepala Seksi Kelembagaan Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung Rifka Zuyun Umadah mengatakan 564 dari 634 SD negeri dan swasta di daerahnya tidak memenuhi pagu penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027.

Jumlah itu setara 88,96 persen dari seluruh SD di Tulungagung. Hanya 70 sekolah atau sekitar 11,04 persen yang berhasil memenuhi pagu penerimaan.

Sebanyak 49 sekolah mendapat paling banyak tiga murid baru. Rinciannya, empat sekolah tidak memperoleh murid, empat sekolah mendapat satu murid, 12 sekolah menerima dua murid, dan 29 sekolah memperoleh tiga murid.

Bacaan Lainnya

Di Kabupaten Kediri, kondisi serupa terjadi di sekitar 15 SD negeri yang memperoleh kurang dari lima murid baru. SDN Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, misalnya, hanya menerima dua murid kelas 1.

Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Inul Dwi Astuti mengatakan penggabungan sekolah menjadi salah satu kemungkinan yang sedang dikaji.

“Merger membutuhkan analisis dan pertimbangan yang matang. Yang dikaji bukan hanya jumlah murid, tetapi juga distribusi guru, kondisi wilayah, serta berbagai aspek lainnya,” kata Inul pada Rabu, 15 Juli 2026.

Jumlah Anak Usia Sekolah Menurun

Ihwal penyebab sekolah kekurangan murid, Dinas Pendidikan Tulungagung menunjuk penurunan jumlah anak usia sekolah sebagai salah satu faktor utama.

Jumlah lulusan SD di daerah itu turun dari sekitar 13 ribu menjadi 11 ribu siswa. Penurunannya mencapai sekitar 2.000 siswa atau 15,4 persen.

Dinas mengaitkan penyusutan tersebut dengan penurunan angka kelahiran dan jumlah lulusan taman kanak-kanak. Namun, data kelahiran dan jumlah anak usia enam hingga tujuh tahun per kecamatan masih diperlukan untuk memastikan besarnya pengaruh faktor demografi.

Kekurangan murid tidak hanya terjadi di kawasan terpencil. Sejumlah sekolah di wilayah perkotaan juga menerima sedikit siswa karena pilihan orang tua terkonsentrasi pada sekolah tertentu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan