Empat sekolah di Tulungagung tidak memperoleh murid baru sama sekali. Sekolah tersebut ialah SDN 1 Tenggong, SD swasta Dlodo, SDN 4 Besuki, dan SDN 5 Bungur.
SDN 1 Tenggong tercatat sudah dua tahun berturut-turut tidak mendapat murid baru. Adapun SD swasta Dlodo memilih menutup lembaganya karena minim peminat dan kondisi kesehatan kepala sekolah.
Persaingan SD dan Madrasah
Selain perubahan demografi, persaingan dengan madrasah ibtidaiyah turut memengaruhi penerimaan murid di sejumlah wilayah.
Guru SDN Bedug, Sukamto, mengatakan sebagian besar lulusan taman kanak-kanak di Desa Bedug memilih melanjutkan pendidikan ke madrasah karena dinilai menawarkan pendidikan agama yang lebih kuat.
Dua murid baru SDN Bedug sempat digabung dengan siswa kelas 2 selama masa pengenalan lingkungan sekolah. Setelah kegiatan tersebut selesai, pembelajaran akan kembali dipisahkan sesuai jenjang.
Minimnya jumlah murid juga berpengaruh terhadap distribusi guru, pemenuhan jam mengajar, biaya pemeliharaan gedung, serta efektivitas penggunaan anggaran sekolah.
Sekolah kecil tetap menanggung biaya tetap berupa gaji, listrik, administrasi, dan perawatan aset. Namun, merger tidak selalu menjadi pilihan terbaik, terutama jika sekolah masih dibutuhkan untuk menjaga akses pendidikan di wilayah terpencil.
Dinas Pendidikan Kediri masih memetakan asal lulusan taman kanak-kanak, pilihan sekolah, kondisi wilayah, dan distribusi guru sebelum menentukan langkah terhadap sekolah yang kekurangan murid.
“Anak-anak lulusan TK di wilayah sini sebagian besar memilih masuk MI. Yang benar-benar masuk ke SD sangat sedikit, sehingga tahun ini hanya ada dua siswa baru,” kata Sukamto.***





