Pektin, maizena, dan ekstrak daun teh hijau dikembangkan menjadi film hidrokoloid untuk membantu mencegah infeksi sekaligus mengurangi penggunaan material medis sintetis.
Lima mahasiswa Universitas Airlangga mengembangkan balutan luka medis berbahan pektin, maizena, dan ekstrak daun teh hijau. Inovasi itu dirancang sebagai alternatif material sintetis untuk membantu mencegah infeksi selama proses penyembuhan luka.
Gagasan tersebut memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Riset Eksakta 2026. Penelitian mereka berjudul Film Hidrokoloid Inovatif Berbasis Pektin Maizena dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Wound Dressing Applications.
Ketua tim Abdullah Imam Abdul Rahman mengatakan ide penelitian muncul ketika mereka mencari bahan alternatif untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih ramah lingkungan.
“Kami berpikir positif bahwa penelitian ini dapat menjadi pengembangan yang kuat untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, khususnya di bidang penyembuhan luka,” kata Abdul, Rabu, 15 Juli 2026.
Tim tersebut beranggotakan mahasiswa angkatan 2025, yakni Abdullah dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Desiva Frisillia Afanty dari Fakultas Farmasi, serta Alya Nur Azizah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Anggota lainnya ialah M. Zain Hisyam Al Fikri Zuhdi dari Fakultas Perikanan dan Kelautan serta Fisti Nisa Nur Azizah dari Fakultas Kedokteran.
Menguji Kekuatan dan Daya Serap
Balutan luka itu dibuat menggunakan pektin dan maizena sebagai biopolimer alami. Kedua bahan tersebut dicampur dengan ekstrak daun teh hijau yang diharapkan memiliki sifat regeneratif dalam proses penyembuhan luka.
Menurut Abdul, pengembangan itu berangkat dari penggunaan material hidrokoloid sebagai pelapis makanan. Tim kemudian mengadaptasi karakteristik bahan tersebut untuk kebutuhan medis.
Peneliti menguji sifat mekanis setiap formulasi yang dihasilkan. Struktur material diperiksa menggunakan mikroskop elektron pemindai atau SEM serta spektroskopi inframerah transformasi Fourier atau FTIR.





