Banyak orang tua baru menyadari anak mengalami stunting saat tubuhnya tampak lebih pendek dari teman sebayanya. Padahal, tanda awal stunting justru terlihat dari berat badan yang tidak naik sesuai usia.
BOJONEGORO — Pencegahan stunting perlu dimulai sejak dini dengan memantau pertumbuhan anak. Prof. Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, menekankan bahwa berat badan adalah tanda awal stunting yang sering kali terlewatkan orang tua.
Dalam penyuluhan pencegahan stunting di Aula Pendopo Kantor Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro, Prof. Irwanto menjelaskan bahwa anak bertubuh pendek tidak selalu mengalami stunting. Penyebab pendek bisa beragam, seperti faktor keturunan atau kelainan lain. Namun stunting sudah pasti ditandai dengan tubuh pendek akibat malnutrisi kronis.
“Pendek belum tentu stunting, tetapi stunting sudah pasti pendek,” tegasnya, Sabtu (11/7/2026).
Ia menambahkan bahwa proses stunting berlangsung bertahap. Sebelum tinggi badan terpengaruh, pertumbuhan berat badan biasanya lebih dulu melambat.
“Berat badan adalah tanda awal stunting yang sangat jarang orang tua sadari. Pada usia dua hingga empat bulan, jika berat badan tidak naik, itu harus diwaspadai sebagai risiko stunting,” jelas Prof. Irwanto.
Oleh karena itu, ia mengimbau orang tua rutin memantau pertumbuhan anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika menemukan penyimpangan.
Pencegahan di 1.000 HPK
Pencegahan paling efektif dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Prof. Irwanto menekankan peran orang tua dalam pemenuhan gizi dan pemantauan rutin.
“Manfaatkan Buku KIA dengan baik mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia lima tahun. Itu cara paling mudah untuk memantau pertumbuhan anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya asupan gizi ibu selama kehamilan dan menyusui karena berpengaruh pada kualitas ASI dan tumbuh kembang anak.
“Jaga makan ibu agar ASI yang dihasilkan berkualitas. Hal itu sangat berkorelasi dengan pertumbuhan badan, perkembangan otak, dan kesehatan anak,” katanya.
Prof. Irwanto menegaskan stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tapi juga kemampuan kognitif, emosi, prestasi belajar, hingga produktivitas di masa dewasa.
“Intervensi pemberian gizi pada anak harus dilakukan secara holistik agar pencegahan stunting dapat berjalan maksimal,” pungkasnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga bersama fakultas lain dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan stunting sejak dini.***





