Dengan penduduk tak sampai 600 ribu jiwa, Tanjung Verde mencetak sejarah dengan menembus fase gugur Piala Dunia 2026 dan menantang Argentina di babak 32 besar.
Seorang ibu berusia lanjut berdiri di tribun Houston dengan mata berkaca-kaca. Perjalanan visa yang rumit membuatnya terlambat datang ke Amerika Serikat, tetapi ia masih sempat menyaksikan putranya, penjaga gawang Vozinha, membantu Tanjung Verde mengukir sejarah.
Lolos dari Grup Neraka
Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak kejutan. Namun, sedikit yang mampu menandingi kisah Tanjung Verde—atau Cabo Verde—negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat dengan populasi hanya sekitar 500 ribu hingga 600 ribu jiwa.
Di Houston, Sabtu, 27 Juni 2026, hasil imbang tanpa gol melawan Arab Saudi sudah cukup membawa mereka melangkah ke babak 32 besar. Pada saat yang sama, kemenangan Spanyol 1-0 atas Uruguay memastikan Blue Sharks finis sebagai runner-up Grup H dan menyingkirkan dua negara yang lebih berpengalaman.
Bagi pembaca Indonesia, jumlah penduduk Tanjung Verde bahkan hanya seperempat Kota Bekasi yang dihuni sekitar 2,6 juta orang.
Namun, di lapangan sepak bola, angka populasi ternyata tidak selalu menentukan ukuran mimpi.
Sejarah Negara Kecil
Tanjung Verde kini menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terkecil yang pernah menembus fase gugur Piala Dunia putra. Tiga hasil imbang beruntun cukup mengantar mereka melampaui Arab Saudi dan Uruguay di klasemen akhir.
Perjalanan menuju Amerika Utara juga bukan kebetulan.
Di babak kualifikasi zona Afrika, mereka keluar sebagai juara grup setelah menyingkirkan tim-tim yang lebih mapan seperti Kamerun dan Angola. Kemenangan 3-0 atas Eswatini menjadi penegas bahwa keberhasilan itu dibangun lewat konsistensi, bukan sekadar keberuntungan.
Negara yang baru bergabung dengan FIFA pada 1986 tersebut sebelumnya hanya dikenal lewat capaian perempat final Piala Afrika. Kini, sejarah baru ditulis di panggung yang jauh lebih besar.
Sentuhan Bubista
Di balik pencapaian itu berdiri sosok Pedro Leitão Brito, atau Bubista.





