Satu gol lagi, Messi cetak sejarah yang tak akan terulang. Tapi di seberang lapangan, ada Lamine Yamal yang datang bukan untuk menonton perpisahan—melainkan untuk merebut mahkotanya.
Ada dua jam pertandingan di MetLife Stadium, Senin dini hari WIB nanti, yang mungkin akan diingat bukan cuma karena trofi yang diperebutkan, melainkan karena siapa yang menyerahkan panggung kepada siapa. Di satu sisi ada Lionel Messi, 39 tahun, yang datang membawa koleksi rekor sepanjang enam edisi Piala Dunia. Di sisi lain ada Lamine Yamal, remaja Spanyol yang tumbuh besar menonton Messi di layar televisi, kini justru berdiri di lapangan yang sama untuk merebut posisinya.
Messi masuk final ketiganya setelah 2014 dan 2022, menyamai rekor Cafu sebagai pemain dengan penampilan final terbanyak. Di usia 39 tahun 25 hari, ia akan menjadi pemain lapangan tertua sepanjang sejarah yang tampil di partai puncak Piala Dunia—rekor keseluruhan tetap milik kiper Italia Dino Zoff yang bermain pada usia 40 tahun 133 hari di final 1982.
Sepanjang turnamen ini, Messi mengumpulkan delapan gol dan empat assist alias 12 kontribusi gol. Ia tinggal butuh satu gol atau assist lagi untuk menyamai rekor keterlibatan gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia sejak pencatatan resmi dimulai tahun 1966, yang selama ini dipegang legenda Swedia Nils Liedholm sejak 1958. Satu gol saja ke gawang Spanyol, dan namanya berdiri sendirian di puncak catatan itu.
Ketika yang Muda Tak Datang untuk Menonton
Ironinya, lawan yang menghadangnya bukan tim veteran, melainkan skuad Spanyol yang justru ditopang darah muda. Lamine Yamal jadi simbolnya: pemain yang masa kecilnya berbarengan dengan puncak karier Messi di Barcelona, kini menghadapinya sebagai rival di panggung terbesar sepak bola.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang berencana nobar di Jakarta International Stadium, menyebut pertemuan Messi dan Yamal di final ini punya cerita tersendiri—sesuatu yang lebih besar dari sekadar duel Argentina lawan Spanyol. Ia tetap menjagokan Argentina, memuji penampilan Messi saat menyingkirkan Inggris di semifinal.
Cerita generasi ini yang membuat final kali ini terasa berbeda dari final-final sebelumnya. Bukan cuma soal siapa mengangkat trofi, tapi soal apakah era yang dibangun satu orang selama dua dekade akan ditutup dengan gemilang, atau justru direbut paksa oleh generasi yang baru saja mulai.
Histeria yang Tak Menunggu Peluit Kickoff
Gema final ini sudah terasa jauh sebelum laga dimulai. Di Pasar Senen, penjualan bendera negara-negara peserta melonjak hingga 100 persen dibanding hari biasa, dengan Argentina dan Spanyol jadi buruan utama pembeli. Pedagang di sana mencatat pola yang konsisten: permintaan naik di awal turnamen, melandai di fase grup, lalu melonjak lagi begitu memasuki babak gugur.
Harga tiket pun mengikuti logika kelangkaan yang sama, bahkan lebih ekstrem. Setelah Argentina dan Spanyol dipastikan bertemu di final, harga tiket di pasar sekunder melonjak jauh di atas harga resmi FIFA, dilaporkan menembus angka Rp1 miliar untuk kategori tertentu—menjadikan laga ini salah satu pertandingan olahraga dengan tiket termahal sepanjang sejarah.
Di dalam negeri, gemanya berubah jadi ratusan titik nonton bareng yang tersebar dari Jakarta sampai Semarang, mulai dari halaman gedung TVRI, kafe-kafe di Grand Indonesia, sampai bar-bar kecil di pinggiran kota. Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang menarik: final kali ini bukan cuma soal siapa yang menang, tapi juga soal jutaan orang yang ingin menyaksikan langsung babak yang mereka duga akan jadi penutup sebuah era.
Satu hal yang pasti: siapa pun yang mengangkat trofi Minggu malam waktu setempat itu, cerita yang tersisa bukan cuma soal gelar juara dunia ke-23, melainkan soal pergantian generasi yang kebetulan terjadi di panggung paling terang dalam sepak bola.***





