Hari Musik Jadi Pengingat Relevansi di Era Digital

Hari Musik Sedunia
Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Puji Karyanto SS MHum Universitas Airlangga (Unair). (Humas Unair)

Dosen FIB Universitas Airlangga Puji Karyanto menyebut musik bukan sekadar hiburan, melainkan berperan dalam aspek sosial, budaya, hingga edukasi. Momentum 21 Juni dinilai tepat untuk merefleksikan transformasi musik di tengah gempuran platform digital.

Peringatan Hari Musik Sedunia yang jatuh setiap 21 Juni menjadi momen refleksi di tengah derasnya arus digital. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Puji Karyanto menegaskan, musik tidak bisa direduksi sekadar sebagai sarana hiburan.

“Musik dapat digunakan untuk semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia, misalnya aspek pendidikan, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, orang menikah pasti memerlukan musik, bahkan orang meninggal juga membutuhkan musik,” ungkapnya, Senin (22/6/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Puji, ekosistem digital telah mengubah lanskap produksi dan konsumsi musik secara fundamental. Kemudahan akses melahirkan gelombang kreativitas yang tak terbendung.

“Semua orang dapat menciptakan dan memproduksi musik dengan kemudahan akses. Orang dapat menerbitkan dan menyebarkan apa yang mereka ciptakan,” tuturnya.

Label Besar Tak Lagi Jadi Penentu

Puji menyoroti pergeseran kuasa di industri musik. Di era lampau, label rekaman besar menjadi gerbang utama seorang musisi untuk berkarya. Kini, teknologi meringkas jarak itu.

“Dahulu, proses perekaman memakan waktu lama dan harus dilakukan di label besar. Sekarang ada indie, bahkan soundcard sangat murah dan mudah diakses. Kita bisa membeli soundcard sendiri, rekaman sendiri, dan mengunggahnya ke platform kita,” imbuhnya.

Ia menilai kemunculan berbagai platform digital berdampak positif pada kreativitas masyarakat. Namun di balik kemudahan itu, Puji mengingatkan adanya tantangan besar: menjaga kelestarian ekosistem musik tanah air.

Ia mendorong generasi muda tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga kreator yang melahirkan inovasi dengan menggabungkan kekayaan musik tradisional Indonesia dengan genre modern.

“Momentum perayaan Hari Musik Sedunia mengubah makna musik dari sekadar sarana mengekspresikan diri menjadi sarana apresiasi yang mencakup aspek pendidikan, politik, serta sosial budaya. Kita tidak boleh hanya menjadi pelengkap, tetapi harus berperan aktif,” pungkasnya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan