Ruang digital memberi peluang bagi perempuan untuk bersuara. Namun, serangan berbasis gender ikut meningkat seiring makin luasnya partisipasi mereka di internet.
Partisipasi perempuan di ruang digital terus meningkat, tetapi kerentanannya juga ikut membesar. Guru Besar Antropologi FISIP Universitas Airlangga Myrtati Dyah Artaria menilai internet belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi perempuan.
Myrtati mengatakan ruang digital memberi banyak peluang bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyampaikan pendapat, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, peluang itu berjalan beriringan dengan risiko kekerasan dan pelecehan berbasis digital.
“Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, di sisi lain ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik,” ujar Myrtati, Kamis (4/6/2026).
Patriarki Terbawa ke Internet
Menurut Myrtati, serangan terhadap perempuan di ruang digital tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat. Teknologi boleh berubah, tetapi cara sebagian orang memandang dan memperlakukan perempuan kerap masih sama seperti di ruang fisik.
“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat,” ujar Myrtati.
Ia menilai kritik terhadap perempuan di ruang publik digital sering bergeser dari substansi gagasan menjadi serangan terhadap identitas pribadi. Tubuh, emosi, moralitas, dan relasi sosial perempuan kerap dijadikan sasaran untuk merendahkan mereka.
Myrtati menegaskan ruang digital bukan dunia yang terpisah dari kehidupan sosial. Nilai, norma, dan budaya yang hidup di masyarakat ikut terbawa ke internet, sehingga perlakuan terhadap perempuan di media digital sering mencerminkan perlakuan terhadap perempuan di dunia nyata.
Dampak Meluas ke Karier
Serangan digital terhadap perempuan, kata Myrtati, kerap muncul bertahap. Awalnya berupa komentar merendahkan, lalu berkembang menjadi ancaman, penyebaran data pribadi, hingga kekerasan seksual berbasis digital.




