Travel Grant, Dana Sakral yang Jadi Celah Penipuan Akademik WNI

Ilustrasi dugaan penipuan akademik berkedok travel grant yang mencoreng reputasi peneliti Indonesia.
Nama Indonesia dipertaruhkan di hadapan 1.300 ilmuwan dari 86 negara hanya demi travel grant — gratis keliling dunia berkedok sains.

Keliling dunia gratis lewat konferensi ilmiah internasional — itulah yang diduga menjadi motivasi sekelompok warga negara Indonesia yang kini mencoreng nama akademisi Indonesia di mata dunia.

Apa Itu Travel Grant?

Travel grant adalah dana hibah yang diberikan penyelenggara konferensi kepada peneliti yang abstraknya diterima untuk dipresentasikan — menanggung biaya perjalanan, penginapan, hingga registrasi. Sistem ini dirancang agar peneliti dari negara berkembang tetap bisa berpartisipasi di forum ilmiah bergengsi meski terkendala biaya.

Bacaan Lainnya

Caranya: ajukan abstrak riset, lolos seleksi, dapat dana, terbang ke luar negeri. Yang diduga terjadi dalam kasus ini: abstraknya palsu, datanya fabrikasi AI, dan identitasnya pun dipalsukan.

Yang Terjadi di Kopenhagen

Konferensi ISPPD — International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases — adalah forum ilmiah bergengsi di bidang pneumonia yang tahun ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. Berlangsung 17–21 Mei 2026, forum ini mempertemukan ilmuwan, dokter, dan epidemiolog dari seluruh dunia.

Di tengah forum tersebut, sekelompok peneliti Indonesia — disebut termasuk Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti — mempresentasikan hingga 19 abstrak ilmiah sekaligus. Jumlah itu sendiri sudah mencurigakan: tidak masuk akal dihasilkan dalam waktu singkat.

Kecurigaan menguat saat Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti Indonesia di Universitas Oxford yang hadir langsung, menemukan seorang peserta diduga berganti nama, mengganti model jilbab, dan menukar nametag untuk tampil sebagai individu berbeda dalam sesi berbeda. Lokasi riset yang diklaim pun mustahil: Pegunungan Andes, dataran tinggi Ethiopia, hingga Nepal — tanpa satu pun kolaborator lokal atau persetujuan etis yang dapat diverifikasi. Afiliasi yang digunakan juga diduga fiktif — tidak ditemukan keberadaannya.

Kasus ini bukan yang pertama. Pada April 2025, kelompok yang sama diduga melakukan hal serupa di konferensi burung raptor di Taiwan — topik yang sama sekali tidak sesuai latar belakang mereka.

Pos terkait