Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa minta pelaku pasar segera lepas dolar. Aturan DHE baru berlaku Juni, devisa ekspor wajib parkir di bank negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memasang target ambisius: rupiah harus kembali ke level Rp15.000 per dolar AS. Saat ini, mata uang Garuda masih terpuruk di kisaran Rp17.698 — jauh dari angka yang ia sebut.
“Saya bilang pemain valas, cepat-cepat jual dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS,” kata Purbaya dalam Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Purbaya bahkan mengulang pesannya dengan nada tegas: “Jadi saya ulangi lagi, kalau punya dolar, jual sekarang.”
DHE Wajib Parkir di Bank Negara
Fondasi dari keyakinan Purbaya adalah PP No. 21/2026 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), yang mulai berlaku 1 Juni 2026.
Beleid baru ini mengharuskan seluruh devisa hasil ekspor ditempatkan di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) — bukan lagi di sembarang bank.
Skema retensinya pun jauh lebih ketat. Sektor migas wajib menahan minimal 30% DHE selama tiga bulan. Sementara sektor nonmigas diwajibkan menahan 100% selama 12 bulan penuh.
Batas konversi DHE ke rupiah juga dipangkas menjadi maksimal 50%.
Lubang di Aturan Lama
Purbaya menjelaskan mengapa regulasi sebelumnya gagal. Dana devisa memang masuk dan dikonversi ke rupiah, tapi kemudian mengalir deras ke bank-bank kecil yang akhirnya mengirimnya ke luar negeri.
“Dolar kita di sini habis. Kebijakan lama seolah-olah tidak berfungsi sama sekali,” ujar Purbaya, mengutip kesimpulan Presiden setelah regulasi lama dianalisis.
Dengan sentralisasi ke Himbara, pengawasan devisa diyakini akan jauh lebih mudah. Pemerintah juga menyiapkan sanksi tegas bagi bank yang tidak patuh.
Senjata Tambahan: Global Bond
Di luar DHE, pemerintah juga memperkuat pasokan dolar lewat penerbitan surat utang global senilai ekuivalen USD3,4 miliar — terdiri dari USD2 miliar dalam denominasi dolar AS dan €1,25 miliar dalam denominasi euro.
Purbaya mengklaim minat investor asing terhadap surat utang Indonesia masih sangat tinggi, dengan yield Surat Berharga Negara yang terus menurun sebagai sinyal kepercayaan pasar.





