Dunia musik Indonesia berduka atas kepergian James F. Sundah. Sang maestro pencipta lagu legendaris ini berpulang di New York, AS.
Kabar duka menyelimuti industri kreatif Tanah Air. Sang maestro yang merangkai ribuan nada dan lirik bersejarah, James Freddy Sundah, mengembuskan napas terakhirnya di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (7/5) pukul 11.28 waktu setempat. James berpulang setelah sekian lama berjuang dengan penuh ketabahan melawan penyakit kanker paru-paru.
Istrinya, Priscillia, membagikan kabar kepergian ini melalui media sosial pada Jumat (8/5), memohon doa dan mengantarkan kepergian sosok yang bukan hanya suami dan ayah, tetapi juga sahabat bagi dunia musik Indonesia.
Kepergian James memutar kembali ingatan publik pada jejak panjang karirnya. Ia bukan sekadar seniman; ia adalah sejarawan nada, pengamat administrasi hak cipta, dan pemikir yang peduli pada masa depan etika teknologi di ranah kreatif.
Melodi Awal: Dari Kota Lumpia hingga Puncak Popularitas
Lahir di Semarang pada 1 Desember 1955, darah seni mengalir deras di nadi James. Ayahnya, Alfred Sundah, merupakan tokoh penting yang mengembangkan musik bambu dan kolintang di Sulawesi Utara. Warisan kultural inilah yang kemudian membentuk karakter musikal James.
Gebrakan sejarah James bermula pada 1977. Saat itu, ia mengikuti Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang Radio Prambors selenggarakan. James, yang saat itu masih duduk di bangku SMA, mengaku hanya merasa Tuhan menitipkan ilham kepadanya saat menulis “Lilin-Lilin Kecil”. Siapa sangka, lagu pop lirih tersebut memenangkan hati publik.
Chrisye melantunkan lagu itu dengan magis, membawanya menduduki puncak tangga lagu nasional selama lebih dari setahun. Karya ini melegenda, merekam sejarah, dan Majalah Rolling Stone Indonesia menempatkannya di peringkat 13 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik sepanjang masa.
Setelah itu, James produktif melahirkan barisan karya epik yang mewarnai sejarah musik pop Indonesia, antara lain:
- “September Ceria” (Vina Panduwinata)
- “Astaga” (Ruth Sahanaya)
- “Jurang Pemisah” (Bersama Yockie Suryo Prayogo)
- “Ozon” dan “Sakukurata”
Menembus Batas: Kolaborasi Global dan Pesan Lintas Generasi
Kepiawaian James merangkai melodi tidak hanya bergema di dalam negeri. Pada 1996, ia menorehkan sejarah lintas benua dengan berkolaborasi bersama band rock legendaris asal Jerman, The Scorpions. James turut menciptakan lagu “When You Came Into My Life” yang masuk dalam album Pure Instinct.
James juga menaruh kepedulian mendalam pada perkembangan anak-anak. Menjawab tantangan dari mendiang guru sekaligus mentornya, A.T. Mahmud, James menggandeng pengusaha Lily Dawis untuk memproduksi album anak-anak Bubbles Love. Mereka mendaftarkan album edukatif ini di United States Copyright Office pada 2010 untuk memastikan kualitas dan keaslian bar nada di kancah internasional.





