Mitos Leluhur tentang Genteng Tanah Itu Ternyata adalah Sains Mitigasi Bencana

Atap berat dan tanah salah pilih bisa menjadi pembunuh senyap saat gempa dan longsor datang. ILUSTRASI AI GENERATE
Gempa bumi tidak membunuh. Arsitektur yang membunuh. Kalimat itu bukan provokasi, melainkan kesimpulan ilmiah yang sudah lebih dulu tersimpan dalam pepatah dan naskah kuno Nusantara yang selama ini kita sebut klenik.

Ada pepatah tua di Bengkulu yang berbunyi: orang Bengkulu tidak akan pernah beratap tanah, kecuali pada saat mati. Selama ini kalimat itu dianggap sekadar pantangan adat—diwariskan tanpa penjelasan, dipatuhi tanpa dipahami. 

Sampai para peneliti menyadari bahwa leluhur sebenarnya sedang berbicara soal mekanika struktur bangunan.

Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu, pakar pengurangan risiko bencana dari ITB/ITERA sekaligus Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, membaca larangan genteng tanah liat bukan sebagai takhayul—melainkan sebagai instruksi rekayasa. Saat gempa mengguncang, atap berat adalah ancaman paling mematikan bagi penghuninya. 

Bacaan Lainnya

Penelitian Triyadi dkk. (2010) membuktikan bahwa rumah panggung berstruktur kayu dengan atap ringan bertahan saat gempa Bengkulu 2000 dan 2007. Leluhur sudah tahu itu berabad-abad lebih awal.

Ironisnya, modernitas membalik semua pedoman itu. Dak beton dan genteng keramik kini jadi simbol kemakmuran. Atap seng dilabeli keterbelakangan—padahal prinsip fisikanya tidak pernah berubah.

Kearifan itu tidak berhenti di Bengkulu. Naskah lontar Warugan Lemah dari Kabuyutan Ciburuy, Garut, yang ditulis sebelum abad ke-17 dalam aksara Sunda Kuno, memuat panduan 18 tipe lahan permukiman beserta tingkat keamanannya. Lahan yang melandai ke utara—disebut Talaga Hangsa—ditetapkan sebagai lokasi paling aman. 

Lahan menghadap selatan, Ambek Pataka, yang paling berbahaya. Riset Geoscience Letters (2019) kemudian membuktikan hal yang sama: lereng menghadap selatan mencatat frekuensi longsor tertinggi di kawasan Bogor, utara terendah.

Leluhur kita menguasai esensi mekanika tanah sebelum jurnal internasional merumuskannya dalam angka. Bahkan nama-nama tempat—Lembang, Cirata—adalah peta geologis yang tersimpan dalam bahasa.

Lalu mengapa pengetahuan ini tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kebijakan? Di Indonesia, ada jurang yang disebut Valley of Death: riset mitigasi brilian lahir di kampus, lalu berakhir di rak arsip—tidak pernah menjadi regulasi, tidak pernah menyelamatkan nyawa.

Pos terkait