Wakil Ketua PBNU yang sempat jadi Penjabat Ketum, KH Zulfa Musthofa, disebut-sebut masuk bursa calon Ketua Umum jelang Muktamar ke-35 NU—yang dijadwalkan berlangsung 1–5 Agustus 2026.
Bursa suksesi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) memanas menjelang Muktamar ke-35. Di antara 14 nama yang dipetakan sebagai kandidat potensial, nama KH Zulfa Musthofa turut mencuati.
Kiai Zulfa sempat diangkat sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU melalui rapat pleno di Hotel Sultan, Jakarta, pada 9 Desember 2025, menggantikan KH Yahya Cholil Staquf yang juga sempat diberhentikan oleh Syuriah PBNU.
Profil dan Rekam Jejak
Lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977, Zulfa adalah putra KH Muqarrabin dan Nyai Hajjah Marhumah Latifah. Ia merupakan keponakan mantan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.
Dia menjabat Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022–2027—dan di selanya sempat menjadi Penjabat Ketua Umum ketika terjadi konflik internal di tubuh PBNU.
Ia juga pernah menjadi Katib Syuriah PBNU, Ketua Lembaga Bahtsul Masail, Sekjen MUI DKI Jakarta, dan Ketua Komite Fatwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.
Pada September 2024, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menganugerahkan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepadanya di bidang kesusastraan Arab.
Peta Kandidat Jelang Muktamar
Di bagian lain, Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis survei nasional calon Ketum PBNU 2026–2031 berdasarkan survei daring 20 Februari–15 Maret 2026 terhadap 5.900 responden pengurus dan warga NU.
Dalam simulasi semi-terbuka 14 nama kandidat, KH Imam Jazuli memimpin dengan 26,1 persen, disusul KH Marzuqi Mustamar (22,6 persen), KH Yusuf Chudlori (17 persen), dan KH Yahya Cholil Staquf (9,8 persen). Kiai Zulfa berada di klaster internal PBNU dengan perolehan 4,6 persen.
Insantara mencatat sekitar 80 persen responden menyatakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan PBNU periode berjalan.
Aspirasi dari Timur Indonesia
Jelang muktamar, warga Nahdliyin dari kawasan Timur Indonesia juga menitipkan agenda tersendiri.





