AS ‘Bakar’ USD1,17 Miliar Hadapi Rudal Hipersonik Iran, Stok THAAD Mulai Menipis

Rudal hipersonik Iran yang bikin AS boncos. - Tangkapan Layar Al Jazeera
Serangan rudal hipersonik Iran dalam Operasi Janji Sejati 4 tidak hanya menembus pertahanan udara Amerika Serikat, tetapi juga menguras anggaran militer Washington.

Amerika Serikat menghadapi tekanan besar di Timur Tengah setelah serangan Iran pada awal Maret 2026 memperlihatkan kelemahan sistem pertahanan udara mereka. Masalahnya bukan hanya kegagalan taktis, tetapi juga biaya pertahanan yang melonjak tajam tanpa hasil optimal.

Tanda-tanda masalah ini sebenarnya sudah muncul sejak Juni 2025. Saat itu, pertempuran udara selama 12 hari antara Israel bersama Amerika Serikat melawan Iran memaksa militer AS menembakkan lebih dari 150 rudal pencegat THAAD.

Data intelijen menunjukkan Iran mampu meluncurkan sekitar 574 rudal balistik jarak menengah secara bergelombang. Serangan tersebut menguji batas kemampuan logistik pertahanan udara Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya
Biaya Selangit, Produksi Lambat

Pada Maret 2026, Iran kembali meningkatkan eskalasi melalui “Operation True Promise 4”. Serangan ini diluncurkan sebagai balasan atas operasi militer yang disebut “Operation Epic Fury”.

Dalam operasi tersebut, Iran mengerahkan rudal hipersonik Fattah-2 yang melaju dengan kecepatan Mach 13 hingga Mach 15. Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 1.500 kilometer dan dilengkapi kendaraan luncur hipersonik yang mampu bermanuver di udara.

Kemampuan tersebut membuat rudal sangat sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan konvensional.

Biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat pun sangat besar. Untuk menembakkan 92 rudal pencegat THAAD, Washington diperkirakan menghabiskan sekitar USD1,17 miliar.

Harga satu rudal THAAD diperkirakan mencapai sekitar USD12,8 juta per unit.

Masalahnya tidak berhenti pada biaya. Penggantian stok amunisi membutuhkan waktu produksi lebih dari satu tahun, sehingga muncul kesenjangan antara kecepatan penggunaan dan kemampuan produksi.

Temuan ini sejalan dengan penelitian militer China yang dipublikasikan dalam jurnal Tactical Missile Technology.

Ketua tim peneliti, Liao Longwen, menyebut sistem pertahanan rudal Amerika Serikat menghadapi tantangan serius dalam menghadapi senjata hipersonik modern.

“Sistem pertahanan rudal AS secara teoritis dapat mencegat beberapa senjata hipersonik pada tahap akhirnya, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan kemampuan siluman membuatnya sangat sulit,” kata Liao Longwen dalam laporan tersebut.

Kelemahan Fisik Sistem Pertahanan

Para analis militer mengidentifikasi dua kelemahan utama dalam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Pertama, ketika rudal hipersonik memasuki atmosfer dengan kecepatan 8 hingga 16 Mach, gesekan udara membentuk selubung plasma yang dapat mengganggu sensor inframerah pencegat dan mempengaruhi kinerja radar.

Kedua, rudal Fattah-2 memiliki desain wave-rider dan mesin vektor yang memungkinkan manuver hingga 15G dengan perubahan lintasan lebih dari 20 kilometer.

Kemampuan tersebut membuat algoritma sistem pertahanan kesulitan memprediksi jalur rudal.

Tingkat kesulitan pencegatan yang tinggi memaksa militer Amerika Serikat menembakkan banyak rudal pencegat untuk mengejar satu target. Namun beberapa rudal Iran tetap mampu menembus sistem pertahanan.

Serangan tersebut dilaporkan menghantam fasilitas di sekitar Bandara Internasional Ben Gurion serta gedung Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv.

Tekanan pada Sekutu dan Relokasi Aset

Negara-negara Teluk yang bergantung pada perlindungan pertahanan udara Amerika Serikat juga mulai merasakan dampaknya.

Seorang pejabat senior kawasan Teluk mengungkapkan kekhawatiran terkait menipisnya stok rudal pencegat.

“Kami khawatir—kami tidak punya cukup. Semua negara Teluk tidak punya cukup. Kami sudah meminta tambahan pencegat, tetapi teman-teman kami belum memberikannya,” ujarnya, sebagaimana dikutip The Irish Times.

Situasi ini memaksa Amerika Serikat melakukan relokasi sistem pertahanan dari kawasan lain.

Laporan The Washington Post menyebut militer AS memindahkan sebagian sistem THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah setelah stok amunisi canggih di kawasan tersebut menipis.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa Washington menghabiskan amunisi senilai sekitar USD5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama serangan balasan terhadap Iran.

Ancaman Kekosongan Pertahanan

Krisis logistik ini memunculkan kekhawatiran serius di Pentagon.

Penggunaan rudal pencegat dalam jumlah besar menciptakan risiko interceptor depletion, yaitu kondisi ketika stok sistem pertahanan udara habis sebelum ancaman dapat dihentikan.

Tom Karako dari Center for Strategic and International Studies memperingatkan bahwa waktu tidak berpihak pada Amerika Serikat.

“Apa pun yang bisa dilakukan untuk menghentikan peluncuran rudal itu harus dilakukan secepatnya karena kita tidak mampu terus mencegat mereka sebanyak ini. Meskipun kemampuan intersepsi kita sangat baik, kita tidak punya cukup pertahanan udara untuk mencegat semuanya,” ujarnya.***

Pos terkait