AS ‘Bakar’ USD1,17 Miliar Hadapi Rudal Hipersonik Iran, Stok THAAD Mulai Menipis

Rudal hipersonik Iran yang bikin AS boncos. - Tangkapan Layar Al Jazeera

“Sistem pertahanan rudal AS secara teoritis dapat mencegat beberapa senjata hipersonik pada tahap akhirnya, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan kemampuan siluman membuatnya sangat sulit,” kata Liao Longwen dalam laporan tersebut.

Kelemahan Fisik Sistem Pertahanan

Para analis militer mengidentifikasi dua kelemahan utama dalam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Pertama, ketika rudal hipersonik memasuki atmosfer dengan kecepatan 8 hingga 16 Mach, gesekan udara membentuk selubung plasma yang dapat mengganggu sensor inframerah pencegat dan mempengaruhi kinerja radar.

Bacaan Lainnya

Kedua, rudal Fattah-2 memiliki desain wave-rider dan mesin vektor yang memungkinkan manuver hingga 15G dengan perubahan lintasan lebih dari 20 kilometer.

Kemampuan tersebut membuat algoritma sistem pertahanan kesulitan memprediksi jalur rudal.

Tingkat kesulitan pencegatan yang tinggi memaksa militer Amerika Serikat menembakkan banyak rudal pencegat untuk mengejar satu target. Namun beberapa rudal Iran tetap mampu menembus sistem pertahanan.

Serangan tersebut dilaporkan menghantam fasilitas di sekitar Bandara Internasional Ben Gurion serta gedung Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv.

Tekanan pada Sekutu dan Relokasi Aset

Negara-negara Teluk yang bergantung pada perlindungan pertahanan udara Amerika Serikat juga mulai merasakan dampaknya.

Seorang pejabat senior kawasan Teluk mengungkapkan kekhawatiran terkait menipisnya stok rudal pencegat.

“Kami khawatir—kami tidak punya cukup. Semua negara Teluk tidak punya cukup. Kami sudah meminta tambahan pencegat, tetapi teman-teman kami belum memberikannya,” ujarnya, sebagaimana dikutip The Irish Times.

Situasi ini memaksa Amerika Serikat melakukan relokasi sistem pertahanan dari kawasan lain.

Laporan The Washington Post menyebut militer AS memindahkan sebagian sistem THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah setelah stok amunisi canggih di kawasan tersebut menipis.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa Washington menghabiskan amunisi senilai sekitar USD5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama serangan balasan terhadap Iran.

Ancaman Kekosongan Pertahanan

Krisis logistik ini memunculkan kekhawatiran serius di Pentagon.

Pos terkait