Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pasukan militer Amerika harus dikerahkan ke Iran untuk mengamankan stok uranium tingkat tinggi.
Dalam pengarahan di hadapan Kongres AS, Selasa (10/3/2026), Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pernyataan terkait strategi Washington menghadapi program nuklir Teheran.
“Pada akhirnya, pasukan militer AS harus pergi dan mengambilnya,” papar Rubio—mempertegas urgensi operasi penyitaan uranium Iran.
Pernyataan Rubio mengonfirmasi pergeseran strategi AS dari sekadar serangan udara menuju opsi pengerahan pasukan darat. Hal ini muncul setelah operasi “Epic Fury” pada Februari 2026 dinilai belum mampu menetralkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran secara permanen.
Target: 440 Kilogram Uranium Tingkat Tinggi
Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran saat ini memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jumlah ini, secara teoritis, cukup untuk menghasilkan bahan peledak bagi sekitar sepuluh senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut ke tingkat senjata—atau 90 persen.
Sebagian besar material tersebut diperkirakan masih tersimpan di fasilitas bawah tanah Isfahan. “Yang kami yakini, Isfahan hingga inspeksi terakhir kami memiliki sedikit lebih dari 200 kg uranium 60 persen,” kata Kepala IAEA Rafael Grossi kepada Reuters.
Dua Opsi Operasi Darat
Sementara itu, menurut laporan Axios, pemerintahan Trump telah membahas dua opsi utama terkait penanganan uranium Iran.
Opsi pertama adalah memindahkan seluruh material uranium yang diperkaya keluar dari Iran. Opsi kedua mengirim para ahli senjata nuklir ke Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium tersebut langsung di lokasi, kemungkinan melibatkan ilmuwan IAEA.
Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan Trump dan timnya secara serius mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan khusus untuk misi terbatas di wilayah Iran.
Latar Belakang: Trump Buka Opsi Pasukan Darat
Sebelumnya, dalam konferensi pers di pesawat Air Force One, Sabtu (7/3/2026), Presiden Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke fasilitas nuklir Iran.
“Mungkin saja, untuk alasan yang sangat bagus. Pada suatu saat mungkin kita akan melakukannya. Itu akan menjadi hal yang hebat,” tegas Trump.
Pernyataan ini muncul setelah analisis intelijen AS menunjukkan bahwa pemboman udara saja tidak cukup untuk mengamankan material nuklir strategis Iran. Serangan udara juga berisiko memicu bencana radiasi massal jika menghantam fasilitas nuklir secara tidak tepat.
Iran Siapkan Perlawanan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons dengan pernyataan keras. “Kami sedang menanti mereka, kami siap menghadapi mereka. Itu akan menjadi bencana besar bagi Amerika dan Israel. Kami siap menghadapi skenario apa pun,” ujarnya.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dipastikan akan memperkuat pertahanan asimetris di sekitar fasilitas bawah tanah. Langkah ini berpotensi menimbulkan korban jiwa besar jika invasi darat benar-benar dieksekusi.
Risiko Pendudukan Jangka Panjang
Invasi fisik ke Iran akan menandai pengerahan besar-besaran pasukan darat AS untuk pertama kalinya sejak invasi Irak. Para pengamat militer memperingatkan bahwa operasi ini berisiko menyeret Washington ke dalam pendudukan militer jangka panjang di kawasan yang kompleks.
Hingga berita ini diturunkan, Trump belum mengeluarkan perintah resmi terkait pengerahan pasukan darat. Keputusan akhir akan melibatkan Pentagon, CIA, dan pertimbangan politik keamanan nasional.***





