Nekat Sita Uranium Iran, Menlu AS: Pasukan Darat Harus Pergi dan Mengambilnya

Dokumentasi tahun 2021 merekam pengayaan uranium Iran, yang berlangsung di situs nuklir Natanz dengan sentrifugal tipe IR-4 yang canggih. — Dok. Reuters
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pasukan militer Amerika harus dikerahkan ke Iran untuk mengamankan stok uranium tingkat tinggi.

Dalam pengarahan di hadapan Kongres AS, Selasa (10/3/2026), Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pernyataan terkait strategi Washington menghadapi program nuklir Teheran. 

“Pada akhirnya, pasukan militer AS harus pergi dan mengambilnya,” papar Rubio—mempertegas urgensi operasi penyitaan uranium Iran.

Pernyataan Rubio mengonfirmasi pergeseran strategi AS dari sekadar serangan udara menuju opsi pengerahan pasukan darat. Hal ini muncul setelah operasi “Epic Fury” pada Februari 2026 dinilai belum mampu menetralkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran secara permanen.

Bacaan Lainnya
Target: 440 Kilogram Uranium Tingkat Tinggi

Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran saat ini memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jumlah ini,  secara teoritis, cukup untuk menghasilkan bahan peledak bagi sekitar sepuluh senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut ke tingkat senjata—atau 90 persen.

Sebagian besar material tersebut diperkirakan masih tersimpan di fasilitas bawah tanah Isfahan. “Yang kami yakini, Isfahan hingga inspeksi terakhir kami memiliki sedikit lebih dari 200 kg uranium 60 persen,” kata Kepala IAEA Rafael Grossi kepada Reuters.

Dua Opsi Operasi Darat

Sementara itu, menurut laporan Axios, pemerintahan Trump telah membahas dua opsi utama terkait penanganan uranium Iran. 

Opsi pertama adalah memindahkan seluruh material uranium yang diperkaya keluar dari Iran. Opsi kedua mengirim para ahli senjata nuklir ke Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium tersebut langsung di lokasi, kemungkinan melibatkan ilmuwan IAEA.

Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan Trump dan timnya secara serius mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan khusus untuk misi terbatas di wilayah Iran.

Latar Belakang: Trump Buka Opsi Pasukan Darat

Sebelumnya, dalam konferensi pers di pesawat Air Force One, Sabtu (7/3/2026), Presiden Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke fasilitas nuklir Iran.

Pos terkait