Said Aqil Dinilai Paling Layak Jadi Rais Aam NU

Mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj — Tangkapan Layar Youtube Forum Keadilan TV
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, perbincangan tentang Rais Aam kembali menguji satu hal mendasar: bagaimana NU menjaga marwah otoritas ulama di tengah tarikan zaman.

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), diskursus mengenai sosok ideal Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengemuka sebagai isu sentral. Jabatan Rais Aam dinilai bukan sekadar posisi struktural, melainkan simbol marwah, otoritas tertinggi Syuriyah, sekaligus penentu arah strategis jam’iyah yang sejak awal berdiri memposisikan diri sebagai pewaris tradisi kenabian—menjaga agama sekaligus merawat bangsa.

Pandangan tersebut disampaikan Kiai Imam Jazuli—akrab disapa Imjaz—yang menekankan bahwa pemilihan Rais Aam harus berpijak pada mekanisme dan kriteria yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. 

Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), menurutnya, bukan sekadar prosedur formal, melainkan pagar etis agar kepemimpinan Syuriyah tidak terjebak pada popularitas figur.

Bacaan Lainnya

Dalam struktur NU, Syuriyah merupakan lembaga tertinggi yang memegang kendali penuh atas arah keulamaan organisasi. Di puncaknya berdiri Rais Aam—figur yang selama ini dipilih dengan kriteria ketat, mencerminkan tradisi kehati-hatian NU dalam menempatkan otoritas spiritual. 

“Rais Aam bukan jabatan administratif. Ia simbol marwah, pemimpin spiritual, sekaligus pengambil kebijakan strategis jam’iyah,” ujar Imjaz, Sabtu (24/1/2026). 

Baginya, pertanyaan kunci bukan siapa yang paling dikenal, melainkan siapa yang paling memenuhi syarat.

Empat Pilar Kepemimpinan Syuriyah

Imjaz merumuskan empat pilar utama yang harus melekat pada sosok Rais Aam PBNU: alim, faqih, zahid, dan berpengalaman dalam organisasi. Pilar itu, katanya, diperkuat oleh nilai-nilai khas kiai sepuh—martabat (muru’ah), futuwwah atau wibawa moral, serta kemampuan menjadi pengendali sekaligus jangkar gerakan jam’iyah (muharrikan).

Berdasarkan parameter tersebut, Imjaz menilai KH. Said Aqil Siradj sebagai figur yang paling mendekati kelengkapan kriteria. “Jika diterapkan secara objektif, Kiai Said muncul sebagai sosok yang paling paripurna,” ujar Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon itu.

Keilmuan, Moderasi, dan Dunia yang Berubah

Dari sisi keilmuan, Said Aqil disebut sebagai ulama alim dan faqih dengan latar pendidikan di Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran kontemporer. 

Pos terkait