Pada sebuah kampung di kaki Tasikmalaya, semangat Sumpah Pemuda diterjemahkan lewat dinding rumah yang kini berdiri tegak dan bebas bocor.
Program Rumah Syukur TSP 97 kembali direalisasikan oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME). Kali ini, rumah layak huni hasil pembangunan ulang diserahkan kepada Komariah (78), warga Kampung Waru Jajar, Tawang Banteng, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Ahad, 21 Desember 2025.
Penyerahan rumah itu menjadi mata rantai terbaru dari santunan nasional Rumah Syukur Layak Huni yang secara konsisten dijalankan OPSHID FKYME. Sebelumnya, organisasi ini juga merampungkan dan menyerahkan rumah serupa kepada Iwan Nasrudin, warga Kampung Batu Nungku, Cipari Mangkubumi. Dua lokasi, dua keluarga, satu pesan yang sama: kesejahteraan sosial tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari kepedulian yang dikerjakan secara tekun.
Khidmat di Waru Jajar
Tasyakuran dan serah terima rumah di Kampung Waru Jajar berlangsung sederhana, namun sarat makna. Unsur Muspika hadir lengkap—Camat Sukaratu, Danramil Sukaratu Letda Inf. Mahmudin, perwakilan Polsek Sukaratu—bersama tokoh masyarakat dan warga sekitar. Lantunan hadroh dari grup Nazmatussobah Cipari–Mangkubumi mengiringi prosesi, menciptakan suasana haru yang pelan namun mengendap.
Tak hanya rumah yang diserahkan. Santunan bagi anak yatim piatu juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Momentum tasyakuran ini sengaja disandingkan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda serta hari lahir Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-97—penanda bahwa solidaritas sosial dan nasionalisme dipandang sebagai dua sisi yang saling menguatkan.
Ketua OPSHID Tasikmalaya, Riswanto, menyebut bahwa hingga kini pihaknya telah membangun dua unit Rumah Syukur di wilayah Tasikmalaya: Batu Nungku Mangkubumi dan Waru Jajar Tawang Banteng. Secara nasional, jumlah rumah yang dibangun mencapai 97 unit—angka simbolik yang sengaja dipilih untuk merujuk usia Indonesia Raya.
“Ini bukan rehabilitasi, tetapi bangun baru dari pondasi hingga bangunan. Secara nasional ada 97 rumah Indonesia yang dibangun atas partisipasi warga Shiddiqiyyah,” ujar Riswanto.





