Surat Syuriyah PBNU yang mendesak Gus Yahya mundur dalam tiga hari beredar dan dibenarkan pengurus.
Surat Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang isinya mendesak Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri beredar luas pada Kamis (20/11/2025). Dokumen berkop PBNU itu ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Jakarta, 29 Jumadal Ula 1447 atau 20 November 2025.
Informasi yang berkembang mengklaim surat tersebut sebagai hasil Rapat Harian Syuriyah yang berlangsung tertutup di Hotel Aston City Jakarta. Dari total 53 pengurus Syuriyah, 37 hadir dalam rapat malam itu.

Isu Narasumber dan Fungsionaris
Dalam risalah rapat, poin pertama menyoroti pemilihan narasumber di Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU). Syuriyah menilai beberapa narasumber memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.
Disebutkan bahwa pemilihan narasumber tersebut dinilai bertentangan dengan nilai yang dijunjung NU.
Poin kedua membahas pemberhentian seorang fungsionaris. Syuriyah menegaskan bahwa pengundangan tokoh yang dianggap terkait jaringan Zionisme melanggar Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13/2025.
Pelanggaran itu dinilai mencemarkan nama baik organisasi sehingga fungsionaris yang bertanggung jawab diberhentikan dengan tidak hormat.
Pelanggaran Tata Kelola Keuangan
Poin ketiga memuat temuan dugaan pelanggaran tata kelola keuangan di lingkungan PBNU. Risalah rapat mencatat adanya indikasi pelanggaran terhadap hukum syara’, peraturan perundang-undangan, pasal 97–99 Anggaran Rumah Tangga NU, serta beberapa peraturan perkumpulan.
Syuriyah menilai dugaan pelanggaran itu dapat membahayakan eksistensi Badan Hukum Perkumpulan NU. Karena itu, pengurus menyerahkan keputusan akhir kepada Rais Aam serta dua Wakil Rais Aam.
Bagian akhir surat menegaskan desakan agar Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri dalam waktu tiga hari sejak keputusan diterima.
“Jika dalam waktu tiga hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” demikian isi surat.
Samudrafakta telah meminta konfirmasi kepada salah satu pengurus PBNU. Ia membenarkan keaslian dokumen tersebut. “Iya benar. Tadi malam,” ujarnya pada Jumat (21/11/2025).
Yahya Membantah
Di tengah ramainya isu pemakzulan, KH Yahya Cholil Staquf mendatangi lokasi Musyawarah Nasional XI MUI di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Jumat (21/11/2025). Ia mengaku baru bertemu Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir.
“Ketemu Kiai. Kiai Afif,” kata Yahya.
Ketika ditanya wartawan apakah pembicaraan itu menyangkut desakan mundur dari Syuriyah, Yahya membantah. “Enggak. Ya, apa namanya, enggak ada (bahas pemakzulan),” ujarnya terbata.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut membahas rencana tapak tilas perjalanan KHR. As’ad Syamsul Arifin, pengasuh kedua Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. “Kita mau ada tapak tilas perjalanan Kiai As’ad,” katanya.
Yahya juga menyatakan tidak membahas soal Muktamar PBNU 2026 yang rencananya digelar di Surabaya. “Enggak, masih lama,” ucapnya.***





