Cak Imin: Gus Dur Gong Reformasi, Soeharto Cukup Bergelar Bapak Pembangunan

Dua bab sejarah Indonesia: Gus Dur, gong reformasi dan demokrasi; Soeharto, bapak pembangunan yang meninggalkan jejak panjang kekuasaan. - Ilustrasi dibuat menggunakan SORA
Menko PMK bersyukur Gus Dur diusulkan jadi pahlawan nasional, tapi enggan komentar soal Soeharto.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengaku bersyukur atas usulan agar Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional. Menurutnya, masa pemerintahan Gus Dur menjadi tonggak penting tumbuhnya demokrasi Indonesia pascareformasi.

“Gus Dur diusulkan menjadi pahlawan tentu kita bangga, bersyukur, terima kasih karena memang demokrasi tumbuh kuat. Gong reformasi dan demokrasi itu adalah Gus Dur,” ujar Cak Imin usai menghadiri lomba baca kitab kuning di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Ahad (9/11).

No Comment untuk Soeharto

Namun, Cak Imin enggan berkomentar terkait pro-kontra pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada Dewan Gelar dan Tanda Jasa.

Bacaan Lainnya

“Siapa saja yang akan mendapat gelar, kita tunggu saja keputusan Dewan Gelar. Sebagai menteri, saya tidak bisa berkomentar siapa yang akan didukung atau tidak,” kata Cak Imin.

Anhar Gonggong: Gelar Bapak Pembangunan Sudah Cukup

Sejarawan Anhar Gonggong, yang pernah menjadi anggota Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan, menilai publik perlu menilai sejarah secara jujur tanpa fanatisme.

“Sejarah bukan alat untuk mengagungkan, tapi untuk belajar,” tegas Anhar dalam siniar YouTube pribadinya, dikutip Ahad (9/11).

Menurutnya, gelar Bapak Pembangunan yang diberikan kepada Soeharto lewat Tap MPR No. V Tahun 1983 sudah cukup menjelaskan peran historisnya.

“MPR sudah memberi gelar Bapak Pembangunan. Itu gelar tertinggi dari lembaga tertinggi negara saat itu. Dan tidak akan ada lagi yang dapat,” ujarnya.

Anhar menambahkan, pemberian gelar Pahlawan Nasional bukan soal penghormatan simbolik, tetapi harus menjadi sarana pendidikan moral bagi bangsa.

“Itu enggak ada artinya buat Pak Harto karena beliau sudah meninggal. Tapi artinya besar untuk masyarakat yang hidup sekarang,” katanya.

Asvi Warman Adam: Gelar Pahlawan Melekat Selamanya

Sejarawan Asvi Warman Adam juga pernah menyampaikan, gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar urusan administratif, melainkan warisan moral yang melekat selamanya.

Pos terkait