Dari Laskar Hizbullah hingga pembaharu pesantren, kiprahnya menegaskan makna sejati perjuangan santri.
KH. Muhammad Yusuf Hasyim lahir di Tebuireng, Jombang, pada 3 Agustus 1929. Putra bungsu pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari ini dikenal sederhana dan enggan dipanggil “Gus”, lebih akrab disapa Pak Ud. Sejak muda ia menimba ilmu di berbagai pesantren seperti Al-Qur’an Sedayu, Krapyak, dan Gontor.
Semangat belajarnya berpadu dengan keberaniannya di medan tempur. Saat Resolusi Jihad dikumandangkan 22 Oktober 1945, ia memimpin Laskar Hizbullah Jombang dan ikut bertempur di Surabaya serta Cukir. Setelah Hizbullah dilebur ke TNI, ia menjadi Letnan Satu Batalyon Condromowo dan turut menumpas pemberontakan PKI Madiun 1948.
Pada 1965, Yusuf Hasyim memimpin Pesantren Tebuireng menggantikan kakaknya, KH. Abdul Wahid Hasyim. Ia membuka jalan pembaharuan dengan mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (1967), SMP–SMA A. Wahid Hasyim (1975), dan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (2006). Sebagai Sekjen PBNU (1967–1971), ia juga memperkuat posisi pesantren sebagai benteng ideologi Islam di tengah gejolak politik 1965.
KH. Yusuf Hasyim wafat pada 14 Januari 2007 di Surabaya. Di pusaranya, Legiun Veteran RI menancapkan simbol bambu runcing sebagai tanda kehormatan pejuang. Ia juga dianugerahi Bintang Gerilya dan Satya Lencana Kesetiaan.
Kini, pemerintah mengusulkan namanya sebagai Pahlawan Nasional 2025, penghormatan atas jasa seorang santri pejuang, pendidik, dan penjaga moral kebangsaan.
Baca selengkapnya di sini.





