Bahaya Perundungan: Korban Bisa Berubah Jadi Pelaku

Saatnya sekolah jadi ruang aman, bukan ladang luka. - Ilustrasi dibuat dengan SORA.
Bila ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta ternyata memang dipicu oleh perundungan, maka peristiwa itu kemungkinan bisa membuka fakta kelam: korban perundungan bisa meledak jadi pelaku kekerasan.

Ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jumat (7/11), mengguncang publik. Menurut keterangan dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), terduga pelaku adalah siswa aktif sekolah tersebut. 

“Terduga pelaku saat ini merupakan salah satu siswa di SMA tersebut,” kata Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo setelah menjenguk korban di RS Islam Jakarta, Cempaka Putih, Sabtu (8/11).

Polri masih mendalami motif termasuk dugaan bahwa pelaku adalah korban perundungan atau bullying.  Korban luka tercatat sebanyak 54 orang. Polisi menemukan bahan peledak rakitan yang diduga dibawa sendiri oleh pelaku. 

Bacaan Lainnya
Proses penanganan korban ledakan di SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11). – Antara
Dari Korban Jadi Pelaku

Saksi di lokasi menyebut bahwa pelaku dikenal kerap menjadi korban perundungan oleh teman-sekelasnya. “Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. … saya lihat ada tiga jenis bom dan hanya dua yang meledak,” kata seorang siswa berinisial S, sebagaimana dikutip Antara, Jumat (7/11). 

Berbagai media juga mencatat bahwa pelaku berinisial “F”, dan berada di kelas di sekolah itu. 

Angka Perundungan di Indonesia Cukup Mengerikan

Bila memang benar motif peledakan ini adalah membalas perundungan, maka peristiwa tersebut tak bisa dianggap sepele.

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan meningkat tajam: dari 91 kasus pada 2020, menjadi 142 kasus di 2021, lalu 194 di 2022, dan 285 di 2023. 

Laporan dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) mencatat bahwa 45 persen remaja Indonesia usia 14–24 tahun melaporkan pernah menjadi korban cyber‐bullying. Sementara riset independen menyebut bahwa sekitar 41 persen siswa usia 15 tahun di Indonesia mengalami bullying. 

JPPI, dalam laporan mereka, juga menyebut bahwa perundungan atau bullying mencakup sekitar 31 persen dari total kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pada 2024.

Mengapa Perundungan Bisa Memicu Tindakan Ekstrem?

Psikolog dan pakar pendidikan menyebut bahwa korban yang merasa terisolasi dan tak punya tempat untuk mengadu bisa berubah menjadi pelaku. 

Kondisi itu diperburuk oleh fakta bahwa lingkungan sekolah sering tidak memiliki mekanisme tanggap yang efektif, dan akses terhadap konten kekerasan di internet memperparah keadaan. 

Riset The Open Psychology Journal (2025) menegaskan, korban bullying berisiko tinggi mengalami gangguan emosi dan bisa berubah agresif bila tak mendapat bantuan. Penelitian Universitas Islam Indonesia (2019) juga menemukan, sebagian korban akhirnya berbalik menjadi pelaku kekerasan.

Sekolah Aman Harus Jadi Gerakan Bersama

Psikolog remaja menilai ada tiga faktor utama yang memicu tindakan ekstrem: isolasi sosial, lingkungan yang tak responsif, dan paparan konten kekerasan di media sosial.

Penelitian Zhao dkk. (2023) terhadap 95.000 siswa menunjukkan, bullying berhubungan erat dengan PTSD, gangguan tidur, dan ide bunuh diri.

Beberapa sekolah telah membuktikan solusi. Di SMAN 8 Padang, program anti-bullying yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua berhasil menurunkan kasus secara signifikan.

Sekolah itu juga melatih siswa jadi “pendengar” dan pelapor awal bagi teman yang butuh pertolongan.

Beberapa sekolah di Indonesia mulai menerapkan program anti‐bullying yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua—meski data spesifik sekolah belum rinci di lapangan. Orang tua, guru, dan siswa kini dipandang memiliki peran kunci dalam menciptakan ruang aman di sekolah.

Para ahli menegaskan pentingnya jalur laporan rahasia bagi korban atau saksi, pelatihan guru untuk deteksi dini, serta monitoring kesehatan mental siswa secara berkala.

Perundungan bukan lagi sekadar masalah internal sekolah. Ia bisa menjadi pemicu tragedi nyata.***

Pos terkait