Ketika Mimpi Itu Terwujud Tanpa Proposal: Kisah tentang Penerima Bantuan Rumah Pintar Shiddiqiyyah 

Ilustrasi penerima program Rumah Pintar Shiddiqiyyah OPSHID FKYME. | Samudrafakta.
Tak ada proposal. Tak ada pengantar resmi dari pemerintah. Hanya sekelompok orang asing datang ke rumahnya—dan menawarkan satu hal yang tak pernah ia bayangkan akan diterimanya: sebuah rumah permanen.

______

Sofiah (50), warga Dusun Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, masih kesulitan merangkai logika sederhana dari apa yang baru saja terjadi padanya. Rumah lamanya dibongkar. Dan sebagai gantinya, sebuah “Rumah Pintar” senilai ratusan juta rupiah sedang dibangun untuk dia dan keluarganya. 

Bukan oleh negara. Bukan pula oleh partai politik menjelang kampanye. Tapi oleh anak-anak muda dari organisasi yang bahkan baru ia kenal namanya: OPSHID—Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bacaan Lainnya

“Saya juga enggak tahu. Tiba-tiba ada yang datang ke rumah, terus ngomong mau kasih rumah,” katanya lirih, Sabtu, 21 Juni 2025.

Waktu itu ia tak kenal mereka. Mereka juga tak pernah minta apa-apa. Tapi ia memilih percaya, meski tak ada satu pun kepala desa atau pejabat setempat yang datang menjelaskan.

Keyakinannya datang bukan dari surat resmi pemerintah, melainkan dari… Instagram. “Lihat Instagram-nya, terus saya percaya,” tutur Sofiah, menyebut akun Opshid Media yang dilihat anak perempuannya, Tiwik Apriyani (18).

Keyakinan itu tak dibangun dalam sekejap. Apalagi ketika orang asing yang menjanjikan rumah baru itu kembali dulu ke daerah masing-masing setelah itu—untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi ia tetap percaya. “Karena surat-suratnya lengkap,” katanya.

Sofiah dan putrinya, Tiwik, mengaku heran, terkejut, sekaligus senang karena mendadak dapat rumah pintar dari OPSHID. | OPSHID Zona 1

Dan ia tidak sendirian. Ada enam orang dalam keluarganya—Sumardi sang suami, dua anak, satu menantu, dan satu cucu—semuanya kini tinggal menumpang sementara, menunggu rumah impian mereka berdiri tegak.

Namun mimpi itu tumbuh di tengah realitas yang getir. Suaminya bekerja serabutan. Panen cengkeh jika ada yang menyuruh. Lima ribu rupiah per kilo. Jika beruntung, sehari bisa dapat sepuluh ribu. Kalau tidak? Ya, tidak ada yang bisa dimakan.

“Kalau nganggur, ya diem aja di rumah. Kadang pemerintah bantu, kadang enggak,” ujar Sofiah, datar.

Putrinya, Tiwik, yang sudah lulus SMA, bahkan belum bisa mengambil ijazah karena masih ada tunggakan biaya sekolah. 

“Mudah-mudahan Bapak Aing (Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi) dengar ini,” ujarnya, setengah harap, setengah satire pada sistem pendidikan yang masih menahan ijazah sebagai ‘jaminan ekonomi’.

Di tengah keadaan seperti itulah, datang para relawan OPSHID. Dari berbagai daerah, mereka membaur di Sukamaju, Sukabumi. Tak ada yang dibayar. Tak ada yang dikenal. Tapi semuanya bekerja, menggali fondasi, menata bata, memasak sendiri di dapur umum seadanya.

“Padahal saya enggak kenal mereka. Tapi saya percaya,” kata Sofiah, berkali-kali mengucap syukur.

Bagi dia, bantuan itu bukan sekadar soal rumah. Tapi tentang pengakuan. Bahwa hidupnya yang selama ini sunyi, ternyata masih bisa diperhatikan—bukan oleh penguasa, tapi oleh orang-orang yang bahkan tak satu KTP dengannya.

Ia menyampaikan terima kasih mendalam kepada pimpinan OPSHID, Mochammad Subchi Azal Tsani, dan Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Kiai Mochammad Muhtar Mu’thi. Nama-nama yang sebelumnya tak pernah ia dengar, tapi kini terukir di hatinya.

“Ini bukan sekadar bedah rumah. Ini rumah sungguhan. Rumah permanen. Ratusan juta nilainya,” Tiwik menimpali, dengan mata berbinar.

Mereka tak pernah mendaftar. Tak pernah masuk daftar penerima bantuan pemerintah. Tapi mereka terpilih. Dan hingga kini, mereka masih merasa seperti sedang bermimpi.

“Saya enggak menyangka. Benar-benar enggak menyangka,” tegas Sofia, tapi dengan nada pelan.

Dan mungkin di tengah negeri yang sering kali menunda harapan dengan rapat koordinasi, Sukamaju mengajarkan sesuatu: bahwa rumah bisa dibangun tanpa birokrasi. Bahwa kepercayaan bisa datang tanpa kenal.

Dan bahwa solidaritas, kadang justru datang dari orang-orang asing yang tak pernah diminta.***

Pos terkait