Dengan klaim menerapkan taktik baru, yang dirancang untuk mengecoh sistem pertahanan Israel, Iran meluncurkan serangan rudal ke Tel Aviv dan Haifa pada Senin, 16 Juni 2025. Mengguncang kawasan permukiman, memicu kecemasan global tentang bakal meluasnya konflik.
__________
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika deru rudal mengoyak langit Tel Aviv dan Haifa, Senin, 16 Juni 2025. Dalam hitungan detik, ledakan-ledakan menggetarkan kawasan padat di jantung kota, termasuk pasar tradisional Shuk HaCarmel dan kawasan hunian Petah Tikva.
Iran, dalam sebuah pernyataan resmi, mengklaim telah meluncurkan serangan balasan dengan taktik baru yang mereka sebut sebagai “pengacau sistem pertahanan musuh.”
Dampaknya nyata. Sedikitnya lima orang tewas, lebih dari seratus lainnya terluka. Korban datang dari berbagai penjuru kota, sebagian besar tak menyangka rudal datang sebelum pagi benar-benar tiba. Di Haifa, api membakar pembangkit listrik dekat pelabuhan, memaksa pemadaman darurat dan evakuasi massal.
Guydo Tetelbaun, 31 tahun, masih terguncang saat ditemui wartawan di sisa bangunan apartemennya. “Kami lari ke tempat perlindungan. Beberapa menit kemudian, pintunya meledak. Orang-orang masuk dalam kondisi berdarah. Setelah semuanya reda, kami kembali ke atas—dan hampir tak ada yang tersisa,” ujarnya pelan.
Serangan ini merupakan respon langsung Iran atas serbuan udara Israel ke beberapa fasilitas militer mereka pekan lalu. Data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat 224 korban jiwa akibat serangan itu, mayoritas warga sipil. Pembalasan pun dirancang dengan presisi militer dan pesan simbolik.
Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya menyebut bahwa mereka menggunakan metode serangan baru yang sengaja dirancang untuk menembus lapisan pertahanan canggih milik Israel. “Sistem pertahanan mereka saling mengganggu satu sama lain. Itu terjadi meski mereka mendapat dukungan penuh dari Amerika dan teknologi Barat,” tulis pernyataan tersebut.
Otoritas militer Israel belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut. Namun beberapa pejabat pertahanan sebelumnya mengakui bahwa sistem Iron Dome—kebanggaan militer Israel—bukan tanpa celah, terutama ketika dihadapkan pada gelombang serangan simultan.





