Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menginisiasi Kurikulum Cinta di lingkungan satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama (Kemenag) sebagai upaya untuk menetralisir fanatisme beragama.
“Apa itu Kurikulum Cinta? Kita akan menanamkan rasa cinta antar satu sama lain melalui kurikulum,” ujar Nazaruddin, usai menghadiri acara Temu Tokoh Agama di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat malam, 10 Januari 2024.
Kurikulum ini, kata Menag, akan menetralisir fanatisme dalam beragama sejak dini. Peserta didik diharapkan tidak menganggap agamanya paling benar dari agama lainnya.
“Karena kalau kurikulum mengajarkan hanya fanatik pada kebenaran agamanya masing-masing, lantas seolah olah agama lainnya menjadi lawannya atau musuhnya. Itu tidak boleh terjadi,” ungkapnya.
Gagasan ini digaungkan Menag usai melihat ragamnya perbedaan di Indonesia. Menurutnya, hal itu harus diramu dalam kebersamaan yang kuat.
“Bagaimana supaya perbedaan ini diramu menjadi sesuatu kebersamaan yang sangat indah,” jelasnya.
Dalam penerapannya nanti, lanjut Nasaruddin, guru yang mengajarkan agama di sekolah-sekolah menanamkan kesetaraan dalam beragama. Guru diminta menciptakan persamaan dan tidak mencela agama lain.
Menag juga menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan beragama. Dia berharap semua tokoh agama kompak mendukung program Presiden Prabowo Subianto.***





