UN Bakal Digelar Lagi, Begini Kata Pakar Pendidikan

Kembalinya Ujian Nasional (UN) mulai disinggung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Ia mengungkapkan bahwa persiapan pelaksanaan UN telah dirancang, meski pelaksanaannya belum direncanakan untuk tahun 2025.

Menanggapi wacana tersebut, Achmad Hidayatullah, pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, menyampaikan tiga catatan penting terkait potensi kembalinya UN di sekolah-sekolah.

Menurut Hidayatullah, ada keyakinan di masyarakat bahwa UN mampu meningkatkan mutu pendidikan. Namun, pelaksanaan UN yang hanya menguji beberapa mata pelajaran dapat mendorong siswa menganggap pelajaran lain yang tidak diujikan menjadi kurang penting.

“Ini berpotensi mereduksi kemampuan siswa memahami bahwa pengetahuan bersifat saling terhubung dan dinamis,” kata Hidayatullah, Rabu (8/1).

Bacaan Lainnya

Dia menilai bahwa UN sebaiknya digunakan sebagai alat ukur ketercapaian kompetensi siswa, bukan penentu kelulusan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pelaksanaan UN yang berlangsung selama tiga hari justru menanamkan keyakinan bahwa hasil lebih penting daripada proses belajar.

“Sistem ini mendorong siswa lebih fokus pada hasil akhir, sementara nilai-nilai seperti ketekunan dan rasa ingin tahu menjadi terabaikan,” ujarnya.

Selain itu, sistem soal pilihan ganda dengan jawaban benar-salah dapat membentuk pola pikir absolut di kalangan siswa. Mereka cenderung menghafal rumus dan definisi tanpa mendorong kemampuan berpikir reflektif dan evaluatif.

Keyakinan bahwa UN dapat memotivasi siswa untuk belajar juga dipertanyakan oleh Hidayatullah. Sejak dihapusnya UN, siswa dan guru dinilai kehilangan motivasi karena tidak ada tantangan yang dianggap signifikan.

“Belum ada riset yang secara tegas menunjukkan bahwa UN mampu meningkatkan motivasi belajar siswa di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, meskipun ada penelitian yang mengaitkan UN dengan penilaian sumatif, hasil studi tentang pengaruhnya terhadap motivasi belajar masih menuai perdebatan.

Studi literatur sistematis oleh Wynne Harlen dkk. (2002) menunjukkan bahwa penilaian sumatif cenderung berdampak negatif pada siswa. Sementara riset Seyed M. Ismail dkk. (2022) menemukan bahwa penilaian sumatif memengaruhi motivasi, meski dampaknya tidak sekuat penilaian formatif.

Pos terkait