Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Dina Y. Sulaeman, mengingatkan agar peristiwa tumbangnya Presiden Suriah Bashar al-Assad menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk selalu mewaspadai narasi sektarian.
Dina, dalam cuitan di akun X pribadinya, menggambarkan Suriah sebagai negara yang dicabik-cabik oleh geng-geng tentara bayaran yang mengusung narasi “jihad”. Menurut Dina, geng-geng yang dia maksud itu didukung oleh Turki, negara-negara Teluk, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
“Geng-geng ini diprovokasi oleh kebencian mereka terhadap agama dan mazhab minoritas, tanpa sadar sedang bekerja untuk kepentingan siapa,” demikian dikutip dari cuitan Dina yang diunggah pada Ahad, 8 Desember 2024.

Di tengah kerusuhan itu, menurut Dina, sebagian rakyat Suriah juga tidak sadar tentang siapa di balik siapa yang terkait dengan kejadian tersebut. Dia pun mewanti-wanti kejadian di Suriah seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia.
“Ini bisa dijadikan pelajaran buat bangsa Indonesia agar selalu waspada terhadap narasi sektarian dan kebencian antaragama dan mazhab,” tegas penulis buku Prahara Suriah itu.
Sebagaimana diketahui, pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad tumbang usai pasukan oposisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merebut ibu kota Damaskus pada Ahad, 8 Desember 2024. Assad melarikan diri ke Rusia.

HTS adalah kelompok milisi terkuat di Suriah yang menentang rezim al-Assad sejak perang sipil berkecamuk di Suriah pada 2011. Kelompok ini disebut-sebut sebagai sumbu utama kebangkitan faksi-faksi di Suriah, hingga berhasil menggulingkan Presiden al-Assad yang telah memimpin negara itu sejak tahun 2000.
Tak lama setelah Assad digulingkan, pasukan Israel melancarkan operasi ke wilayah perbatasan Suriah untuk merebut zona penyangga di Dataran Tinggi Golan.
