“Saya memerintahkan (militer Israel) kemarin untuk merebut zona penyangga dan posisi komando di dekatnya. Kami tidak akan membiarkan kekuatan musuh apa pun membangun diri di perbatasan kami,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Ahad.
Jatuhnya Assad adalah Efek Domino Konflik Kawasan
Yon Machmudi, pengamat politik Timur Tengah Universitas Indonesia (UI), menilai serangan intensif Israel terhadap pos-pos milisi di Suriah—yang selama ini diketahui berafiliasi dengan Iran—punya dampak signifikan pada kejatuhan rezim Assad. Serangan Israel itu menguntungkan kelompok perlawanan HTS, yang sejak awal memang berniat menggulingkan al-Assad.
“HTS diuntungkan oleh serangan-serangan intensif Israel terhadap pos-pos milisi yang berafiliasi dengan Iran, termasuk juga beberapa Garda Iran, Al Quds, yang berada di Suriah. Itu, kan, banyak mendapat serangan, dan menjadi target pembunuhan yang dilakukan oleh Israel, sehingga melemahkan posisi dukungan Iran terhadap Bashar al-Assad,” kata Yon, dikutip Selasa, 10 Desember 2024.
“Nah, ini yang menjadikan serangan dari HTS bisa berdampak sangat besar terhadap jatuhnya Bashar al-Assad,” lanjutnya.
Kendati kemungkinan ada pengaruh dari Israel dalam penggulingan Assad oleh HTS, Yon mengingatkan, masih belum ada bukti khusus yang menunjukkan Israel sengaja mendalangi situasi ini. HTS tak punya hubungan dengan Israel karena, kata Yon, belum ada bukti keduanya berkomunikasi terkait penggulingan sang Presiden.
Dalam pandangan Yon, situasi di Suriah adalah efek domino dari perang yang sedang berkecamuk belakangan di kawasan sekitarnya, seperti perang Rusia dengan Ukraina serta Israel dan Palestina.
Rusia adalah salah satu negara pendukung utama rezim Assad. Namun, menurut Yon, perang panas Rusia dan Ukraina belakangan telah membuat dukungan Kremlin terhadap Assad tak lagi optimal.

