Narasi Prakondisi dan ‘Partai Cokelat’ Iringi Keunggulan Ahmad Luthfi-Taj Yasin di Jateng

Pasangan Cagub-Cawagub Jateng, Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maiomen, bersama Prabowo dan Jokowi dalam sebuah pertemuan. (Tangkapan layar Instagram @ahmadluthfi_official)
Pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen unggul dalam Pilkada Jateng 2024 versi hitung cepat. Seiring kemenangan versi quick count itu, muncul narasi  yang menyebut salah satu faktor pendorong kemenangan mereka adalah pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi.

Luthfi-Taj Yasin, pasangan calon usungan rombongan partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus itu unggul dari calon yang diusung PDI Perjuangan, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi. Perolehan suara mereka hampir 60 persen.

Beberapa pengamat menyebut keunggulan Luthfi-Taj Yasin di Jateng ini fenomena baru. Pasalnya, selama ini sudah ada semacam ‘tradisi’ jika pemimpin-pemimpin di bagian tengah Pulau Jawa itu lahir dari rahim PDIP.

Jawa Tengah dikenal sebagai “kandang banteng”, karena sejak Pilkada Jateng 2005, Partai Banteng Moncong Putih selalu memenangi kontestasi politik lima tahunan.

Bacaan Lainnya

Bagaimana fenomena politik ini bisa terjadi?

Menurut pandangan Direktur Monitoring Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Jojo Rohi, kemenangan jagoan KIM Plus itu tak lepas dari upaya prakondisi yang dikerjakan Ahmad Luthfi—mantan Kapolda Jateng itu.

“Pra-kondisi ini membuat Andika-Hendrar kalah langkah. Ditambah lagi ada indikasi manuver ‘partai cokelat’ yang turut membantu kemenangan Luthfi,” kata Jojo, Jumat, 29 November 2024.

Isu dugaan keterlibatan ‘partai cokelat’ ini sebelumnya diembuskan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Pada sebuah kesempatan di Jakarta, Kamis, 28 November 2024, Hasto menyebut jika Jokowi, penjabat kepala daerah, dan ‘partai cokelat’ menjadi bagian dari sisi gelap demokrasi di pilkada serentak, salah satunya di Jateng.

“Sisi gelap demokrasi ini digerakkan oleh suatu ambisi kekuasaan yang tidak pernah berhenti, yang merupakan perpaduan dari tiga aspek: pertama adalah ambisi Jokowi sendiri, kedua gerakan parcok (partai cokelat), dan ketiga adalah Pj. kepala daerah,” ujar Hasto.

Hasto menuding ketiga elemen tersebut melakukan berbagai intimidasi ke berbagai pihak untuk memenangkan calon yang didukungnya. Peristiwanya tidak hanya di Jateng, kata Hasto, tetapi juga di Sumatera Utara, Banten, Jawa Timur, hingga Sulawesi Utara.

Pos terkait