Sebuah dokumen Central Inteligence Agency atau CIA, badan intelijen rahasia Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa percakapan Cindy Adams, penulis buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia—autobiografi Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno yang banyak dirujuk publik dan sejarawan Indonesia—dipantau badan intelijen tersebut. Kenapa?
Sebelum Cindy datang, Sukarno pernah menolak biografinya dituliskan. Duta Besar AS untuk Indonesia yang dikenal dekat dengan CIA, Howard Jones, pernah membujuk Bung Karno—yang pada 1960-an merupakan tokoh yang diperhitungkan dunia—agar mau menuliskan kisah hidupnya dan segala rahasianya. Namun, Bung Karno menolak. Pasalnya, menurut Bung Karno kala itu, kisah hidupnya masih akan panjang dan masih belum layak ditulis.
Upaya membujuk Bung Karno agar bersedia dituliskan biografinya juga pernah datang dari petugas pers Istana Presiden, Siel Rohmulyati. Ketika mendapatkan tawaran tersebut, Bung Karno marah. Dia tidak mau.
Namun, pada suatu hari di tahun 1961, Bung Karno bertemu Cindy yang sedang ke Jakarta menemani suaminya. Entah bagaimana upaya lobi yang dilakukan Cindy, akhirnya Sukarno bersedia diwawancara dan dituliskan biografinya.
Cindy menggarap Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ketika AS—negara asalnya—sedang tidak happy dengan gaya kepemimpinan Sukarno. AS ketika itu memandang Bung Karno sedang berupaya menggalang kekuatan dunia ketiga untuk melawan negara adidaya tersebut. Sukarno sendiri kala itu tercatat lebih nyaman bekerja sama dengan Uni Soviet setelah Presiden AS John F. Kennedy tewas.
Di tengah situasi rumit antara AS dengan Sukarno, Presiden Pertama Indonesia yang belakangan ini diyakini oleh beberapa sejarawan lahir di Ploso, Jombang, 6 Juni 1902, itu justru menceritakan segala hal tentangnya kepada bekas pemandu sorak di Andrew Jackson High School, St. Albans, Long Island, AS tersebut.
Dan jika membaca Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis Cindy, Sukarno seolah-olah sama sekali tak menyembunyikan segala sesuatu tentang dirinya—termasuk hal-hal personalnya.
Cindy Adams sendiri diketahui sebagai seorang wartawan gosip AS di sebuah kantor berita bernama North American Newspaper Alliance (NANA). Awalnya dia datang ke lndonesia mengikuti suaminya, Joey Adams, yang membawa satu rombongan hiburan keliling Asia untuk menjalankan sebuah program diplomasi budaya yang disponsori Departemen Luar Negeri AS.
Cindy ketika itu juga diketahui bukanlah wartawan dengan keterampilan istimewa. Dia juga tidak berpengalaman. Maka dari itu, ketika Sukarno bersedia dituliskan biografi olehnya, banyak pihak merasa heran.
Setelah buku tulisan Cindy terbit pada tahun 1965, beredarlah sebuah dokumen STATINTL CIA berisi transkrip percakapan antara Cindy Adams dan suaminya, Joey Adams, dengan Steve Allison, seorang pembawa acara dalam Radio-TV Monitoring Service Inc. jaringan WWDC Radio, tertanggal 18 November 1965, pukul 23.30 waktu setempat. Judul wawancaranya adalah Bukan Gelembung CIA (Not A CIA Bubble).
Berikut ini petikan wawancara tersebut:
CINDY ADAMS: Jika Anda membaca buku ini (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia), Anda juga akan mengetahui bahwa serangan CIA tahun 1958 di Indonesia, yang bukan hanya sekadar “gelembung”, tetapi benar-benar terjadi, di mana orang yang dibunuh oleh CIA, yang bernama Allen Pope, melakukan pengeboman terhadap dirinya sendiri, adalah sebuah fakta yang didokumentasikan. Ini adalah noda yang mengerikan pada hubungan Amerika-Indonesia, dan berkontribusi besar pada kemerosotannya (hubungan Indonesia-Amerika).
ALLISON: Saya beritahu Anda sesuatu—ini mungkin akan mengejutkan semua orang yang mendengarkan—terutama Anda, Cindy, dan saya yakin, Joey. Aku tertarik untuk mengatakan bahwa Tuhan kita melakukan sesuatu yang sangat menarik, bukankah itu menarik? Saya sangat senang mendengar bahwa kita memiliki banyak orang di seluruh dunia yang mencoba untuk membuat orang tetap berada di sisi kita (AS). Sekarang, apakah yang kita lakukan itu benar atau salah, ini bukan untuk saya atau Anda untuk mengatakannya—tetapi untuk membuat orang tetap berada di sisi kita—seperti yang Anda katakan tentang Iblis, neraka, dan semua musik jazz—membuat mereka tetap berada di sisi kita. Siapa pun itu, asalkan ada di pihak kita, seperti siapa itu—Churchill atau Roosevelt, bicara tentang De Gaulle, dia adalah seorang Biro Agen Khusus (Special Operations Bureau-SOB)—tapi dia adalah SOB kita. Jadi, banyak yang harus kita jaga agar mereka tetap berada di pihak kita. Dan jika dia melakukan sesuatu untuk membuat Indonesia berada di pihak kita, meskipun dia harus menyingkirkan Soekarno, yang menentang kita, saya setuju. Aku cukup nasionalis untuk mendukungnya.
JOEY ADAMS: Tunggu sebentar.
Alen Lawrence Pope, yang disebut dalam wawancara tersebut—dan ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia—merupakan pilot CIA yang bergabung dengan Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) milik Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)- Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta).

Pope ‘mangkal’ di Lapangan Udara Mapanget—sekarang Lanud Sam Ratulangi—di utara Kota Manado, Sulawesi Utara. Sebelumnya dia pernah ‘mangkal’ di Lanud Clark, dekat Kota Manila, Filipina, yang merupakan pangkalan udara militer Amerika Serikat.
Pesawat yang diawaki Pope, B-26 Invader, ditembak jatuh TNI di Maluku pada 18 Mei 1958. Saat itu Pope, seorang pensiunan militer AS, tengah menjalani misi pengeboman CIA untuk menyokong pemberontakan Permesta. Pemerintah AS tak tinggal diam dengan penangkapan Pope itu, sementara Presiden Sukarno tak mau melepasnya secara gratis. Amerika pun menawarkan barter.





