Gelombang Aksi Pro-Palestina Marak di AS dan Barat, Kenapa di Arab Malah Sepi?

Seorang anak laki-laki mengibarkan bendera Palestina saat demonstrasi pro-Palestina di Lafayette Square dekat Gedung Putih di Washington, AS, 2 Desember 2023. Orang-orang berkumpul dalam solidaritas setelah gencatan senjata sementara berakhir antara Israel dan Hamas awal pekan ini. Sementara itu, ketika di AS ramai aksi pro-Palestina, di tanah Arab tidak ada yang menggelar aksi serupa. FOTO: REUTERS/BONNIE CASH
JAKARTA—Gelombang unjuk rasa mahasiswa pro-Palestina mengguncang dunia beberapa waktu belakangan—terutama di Amerika Serikat (AS), negara adidaya yang dikenal sebagai sekutu utama Israel. Para demonstran terus menekan agar seluruh pihak di dunia menghentikan dukungannya ke Israel yang membombardir wilayah kantong Palestina, Gaza. Namun, gelombang aksi justru tidak begitu terdengar di dunia Arab. Padahal, secara geografi dan budaya, Timur Tengah sangat dekat dengan Palestina.

Aksi unjuk rasa yang menyebar di seluruh negara-negara Barat diinspirasi oleh aksi mahasiswa Universitas Columbia di New York, AS, yang akhirnya dibubarkan polisi dengan tindakan keras.

Namun, di bagian lain dunia, gelombang serupa justru tidak terdengar di tanah Arab, yang secara geografi dan budaya sangat dekat dengan Palestina. Di wilayah semenanjung ini, masyarakat Arab hanya menunjukkan kengerian mereka terhadap perang dan memberikan dukungan kepada sesama warga Arab di Gaza melalui media sosial, namun tidak turun ke jalan.

Sebagaimana dilansir dari Reuters, kampus-kampus dan jalan-jalan di Arab relatif tenang karena perbedaan pandangan politik dengan Hamas—yang menjadi alasan Israel membombardir Palestina—dan para pendukung Hamas di Iran. Selain itu, juga muncul keraguan bahwa protes apa pun dapat berdampak pada kebijakan negara-negara Arab.

Bacaan Lainnya

Pelajar dan mahasiswa AS dan Barat di barangkali hanya akan menghadapi penangkapan atau dikeluarkan dari kampus mereka. Sementara di Arab, ada konsekuensi yang lebih berat menanti warga yang melakukan protes tanpa izin negara.

Di Mesir, negara yang berdamai dengan Israel pada tahun 1979, Presiden Abdel Fattah al-Sisi melarang protes publik. Pasalnya, sebagaimana dilaporkan Reuters, pihak berwenang setempat khawatir demonstrasi melawan Israel nantinya malah berbalik melawan pemerintah di Kairo.

Kekhawatiran ini mengacu pada protes yang dilancarkan warga Kairo terkait perang pada bulan Oktober. Kala itu, beberapa demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah. Aksi tersebut pun memicu penangkapan oleh aparat keamanan.

Pos terkait