Belajar Hidup Anti-Pamer dari Salah Satu Orang Terkaya di Dunia, Warren Buffet

JAKARTA—Banyak orang menganggap betapa enaknya menjadi seorang miliuner karena bisa membeli apa saja yang mereka inginkan. Namun, sepertinya anggapan umum itu tidak berlaku bagi investor kawakan Amerika Serikat (AS) sekaligus salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett. CEO Berkshire Hathaway ini hidup dengan sederhana. Enggak pernah pamer juga.

Warren Buffett menjalani hidup dan mengelola finansialnya dengan apik dan unik. Dia punya beberapa kebiasaan unik dalam mengelola kegiatannya dan membelanjakan duitnya yang bejibun.  

Tidak pernah menghabiskan lebih dari USD3,17 untuk sarapan

Taipan yang kerap dipanggil Waffet ini memerlukan waktu sekitar lima menit untuk berjalan kaki dari rumah ke kantornya. Biasanya, di tengah perjalan tersebut, dia selalu mampir ke McDonald’s untuk sarapan. Kebiasaan ini sudah dia lakukan selama 54 tahun terakhir.

Meski memiliki banyak uang, dia hanya memesan satu dari tiga item, yakni dua roti sosis seharga USD2,61; sosis, telur, dan keju seharga USD2,95; atau bacon, telur, dan keju seharga USD3,17. Jika sedang tak ingin McDonald’s, dia memilih Oreo untuk sarapan.

Bacaan Lainnya
Tinggal di rumah yang sama selama 64 tahun

Selama lebih dari enam dekade Waffet tinggal di rumah yang sama, yang berada di Omaha, AS. Rumah itu terdiri dari lima kamar tidur yang dia beli seharga USD31.500, atau sekitar USD260.000 saat ini. Buffet memilih “istikamah” tinggal di satu rumah yang sama, kendati kalau mau bisa saja setiap hari dia ganti rumah.

Ingin menjadi tetangga Waffet? Rumah di seberang jalan rumahnya dijual seharga USD2,15 juta.

Gaptek, tidak punya komputer di meja kerjanya

Waffet tidak punya komputer. Dia memang gagap teknologi alias gaptek. Dia hanya sekali mengirim e-mail selama hidupnya, yang dilayangkan kepada salah satu pegawai Microsoft, Jeff Raikes.

Namun, kondisi itu tak lantas membuatnya buta informasi. Waffet ‘membuka jendela dunia’ melalui buku World Book Encyclopedia yang dia taruh di rak bukunya.

Membaca sekitar enam jam sehari

Waffet memegang prinsip bahwa, “waktu adalah uang”. Karena itu, dia menghabiskan banyak waktunya untuk memperkaya otaknya.

Pos terkait