88 Persen Nakes Indonesia Nilai AI Percepat Kerja

Ilustrasi AI membantu tenaga kesehatan mempercepat layanan, sementara keputusan klinis dan pengawasan tetap berada di tangan manusia.

Laporan Future Health Index 2026 menempatkan persepsi manfaat kecerdasan artifisial di Indonesia di atas rata-rata dunia. Sebanyak 94 persen responden tetap menolak melepas kendali klinis dari manusia.

Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan di Indonesia menilai kecerdasan artifisial meningkatkan efisiensi alur kerja. Angka itu di atas rata-rata global 71 persen, menurut laporan Future Health Index 2026 yang disusun Philips.

Laporan edisi ke-11 itu juga mencatat 87 persen tenaga kesehatan mengaku mendapat hasil diagnosis lebih cepat. Sebanyak 82 persen menyatakan kecerdasan artifisial mempercepat keputusan klinis. Tiga perempat responden menilai akses data pasien lintas tim menjadi lebih mudah, dibanding 57 persen secara global.

Sebanyak 69 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan perangkat berbasis kecerdasan artifisial memungkinkan mereka menangani lebih banyak pasien, dibanding 50 persen di tingkat dunia. Mereka yang merasakan peningkatan kapasitas rata-rata menerima empat pasien tambahan per minggu.

Bacaan Lainnya

Hampir 59 persen mengaku menghemat paling tidak 88 jam kerja dalam setahun. Sebanyak 67 persen merasa keseimbangan kerja dan tingkat stres membaik.

Manfaat dan Batas Kendali Manusia

Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan perbincangan di rumah sakit sudah bergeser pada cara teknologi memberi waktu dan memperkuat keputusan, bukan lagi pada apakah teknologi bermanfaat.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama, dalam media briefing di Jakarta pada 19 Agustus 2026, mengatakan manfaat terbesar muncul bila kecerdasan artifisial masuk ke kerja harian klinisi, bukan berdiri sebagai perangkat terpisah.

Di kalangan pimpinan fasilitas kesehatan, 43 persen melaporkan penghematan anggaran, dibanding 34 persen secara global. Sebanyak 69 persen menilai manfaat investasi sudah sebanding atau melebihi biaya.

Lebih dari separuh tenaga kesehatan mengeluhkan pelatihan yang belum memadai. Pemantauan penggunaan di fasilitas kesehatan juga belum merata. Sebanyak 94 persen menilai keterlibatan manusia tetap wajib. Sembilan puluh satu persen menekankan setiap hasil harus diawasi tenaga medis.

Laporan itu didasarkan pada survei terhadap lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan 20.000 pasien di 10 negara, termasuk Indonesia, pada Februari–April 2026. Angka tersebut mencerminkan persepsi responden, bukan audit independen atas mutu diagnosis.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan