- Makan sebelum Shalat Idul Fitri.
Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah Hari Raya Idul Fitri. Dalam kitab-kitab fikih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada Hari Raya Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa saat Lebaran, Nabi Muhammad tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan buah kurma dengan jumlah yang ganjil, yaitu 3, 5 atau 7.
- Shalat Ied
Nabi Muhammad menunaikan shalat Ied bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Nabi memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat shalat.
Nabi Muhammad juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Ied pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar 2 meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam punya waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.
- Mendatangi Tempat Keramaian
Suatu ketika saat Lebaran, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng.
Saking asyiknya, sebagaimana hadits riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim, Aisyah sempat memunculkan kepala di atas bahu Rasulullah, sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu di atas bahu Nabi Muhammad dengan puas.
- Mengunjungi Rumah Sahabat
Tradisi silaturahmi, saling mengunjungi saat Hari Raya Idul Fitri, ternyata sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Saat Lebaran tiba, Nabi mengunjungi rumah para sahabatnya; begitu pun para sahabatnya.
Pada kesempatan tersebut, Nabi Muhammad dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain, sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini, yang datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan.
- Tahniah atau Memberi Ucapan Selamat
Hari raya adalah hari yang penuh dengan kegembiraan. Karena itu, dianjurkan untuk saling memberikan selamat atas kebahagiaan yang diraih saat hari istimewa tersebut.
Al-Baihaqi, dalam kitab Sunan, menginventarisir beberapa hadits dan ucapan para sahabat tentang tradisi ucapan selamat di Hari Raya.
Meski tergolong lemah sanadnya, namun rangkaian beberapa dalil tersebut dapat menjadi pijakan untuk persoalan ucapan Hari Raya yang berkaitan dengan keutamaan amal ini.
Salah satunya adalah ucapan minal ‘aidin wal faizin, yang berarti, “semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan”.◼︎





