7 Kebiasaan Nabi Muhammad Saw. ketika Merayakan Idul Fitri, Salah Satunya Mengenakan Pakaian Terbaik

Ilustrasi Canva.
JAKARTA–Masyarakat Muslim di berbagai negara memiliki khas masing-masing dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Bentuk perayaan itu sesuai adat dan kebiasan masing-masing, tetapi tentu saja dengan tetap mengacu pada ajaran Nabi Muhammad Saw., yang merupakan teladan bagi seluruh umat Muslim di dunia. Lalu, bagaimana Nabi Muhammad  sendiri merayakan Hari Raya Idul Fitri? 

Sebagaimana dijelaskan dalam buku How Did Ths Prophet and His Companion Celebrate Eid?, Nabi Muhammad dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan Hari Raya Idul Fitri pada tahun kedua hijriah, atau 624 Masehi. Digelar usai Perang Badar yang berlangsung pada bulan Ramadhan.

Ada tujuh hal yang dikerjakan Nabi Muhammad untuk merayakan Idul Fitri.

  1. Takbir

Pertama, sebagaimana dijelaskan oleh berbagai riwayat, Nabi Muhammad Saw. mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadan sampai pagi hari pada 1 Syawal.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut sebagaimana difirmankan Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah (2): 185,  “Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan nama Allah) atas petunjuk yang telah diberikan-nya kepadamu. Semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur”.

  1. Berhias

Dalam merayakan Idul Fitri, Nabi Muhammad juga diriwayatkan mengenakan pakaian terbaik. Nabi melakukan itu semua karena Idul fitri dipandang sebagai waktunya berhias dan berpenampilan sebaik mungkin, dengan tujuan untuk menampakan kebahagiaan di hari yang berkah itu.

Berhias bisa dilakukan dengan membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian terbaik, dan mengenakan pakaian terbaik. Lebih utama memakai pakaian putih. Bila selain putih ada yang lebih bagus, maka lebih utama mengenakan pakaian yang paling bagus—semisal baju baru.

Dari keterangan tersebut, maka bisa dikatakan bahwa tradisi membeli baju baru saat Lebaran Idul Fitri—sebagaimana kebiasaan masyarakat Indonesia—ada dasar sunnahnya. Tujuannya untuk menebarkan syiar kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri.

Kesunnahan berhias berlaku bagi siapa pun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksnaan shalat Idul Fitri—misalnya perempuan yang sedang berhalangan.

Khusus bagi perempuan, Menurut Syekh Zakariyya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat—seperti tidak membuka aurat serta tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya.

Pos terkait