Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Tembus 361 Pelajar, Satu Dirawat di PICU

Ilustrasi. (AI Generate)

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatera Utara Wilayah IV Zulkarnain Barus sebelumnya merinci korban awal terdiri atas 202 pelajar SMA Negeri 1 Berastagi, 25 pelajar SMA Swasta Bersama, dan 38 pelajar SMK Swasta Bersama.

Laporan lain menyebut makanan dari SPPG yang sama disalurkan kepada lima sekolah. Namun, identitas dua sekolah lainnya dan rincian korban pada setiap sekolah belum diumumkan secara konsisten.

Bobby menyebut keterlambatan munculnya gejala menjadi salah satu penyebab bertambahnya data korban.

Bacaan Lainnya

“Ada yang kemarin langsung pada saat jam belajar, ada yang sampai tadi malam bertambah,” katanya.

Gulai Ikan Dencis Diperiksa

Menu MBG yang dibagikan pada hari kejadian dilaporkan terdiri atas nasi, sayur kol, wortel, dan gulai ikan dencis.

Zulkarnain menduga gangguan kesehatan berkaitan dengan gulai ikan. Namun, dugaan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan karena pemeriksaan laboratorium belum selesai.

Dinas Kesehatan Sumatera Utara telah membawa sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Sampel itu diperiksa untuk mengetahui sumber kontaminasi dan memastikan apakah keluhan para pelajar benar disebabkan makanan MBG.

“Sampel olahan MBG yang dikonsumsi para siswa-siswi di Berastagi telah dibawa untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumut Miswar.

Menurut Miswar, dapur yang memproduksi makanan tersebut telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS. Pernyataan ini perlu diuji lebih lanjut dengan membuka nomor sertifikat, tanggal penerbitan, masa berlaku, hasil inspeksi, serta kondisi dapur ketika makanan diproduksi. 

SPPG Disuspensi, Kepala Dapur Dicopot

Makanan yang dikonsumsi para korban berasal dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang sama. Dapur tersebut melayani lebih dari 2.900 penerima manfaat.

BGN menghentikan sementara operasional SPPG itu dan mencopot kepala SPPG setelah kasus mencuat. Dapur juga diperiksa untuk menelusuri proses pengolahan dan kemungkinan kontaminasi makanan.

Bobby menyebut insiden tersebut sebagai kejadian fatal karena berdampak terhadap ratusan anak.

“Ini kejadian fatal yang berdampak kepada anak-anak kita,” ujarnya.

Meskipun sanksi administratif telah dijatuhkan, BGN maupun Pemerintah Kabupaten Karo belum mengumumkan nama dan lokasi lengkap SPPG, yayasan pengelola, pemasok ikan, waktu memasak, suhu penyimpanan, waktu distribusi, serta hasil pemeriksaan sampel makanan dan spesimen pasien.

Belum dijelaskan pula mengapa distribusi makanan dari dapur tersebut tidak segera dihentikan ketika korban pertama menunjukkan gejala, hingga jumlah pelajar yang membutuhkan pertolongan medis mencapai 361 orang.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan