10 Fakta Gempa Bumi di Pulau Bawean: Dipicu Sesar Muria, Bekas Gunung Api Purba Berguncang Lagi

Keindahan karang Pantai Tajung Ga'ang. Pulau Bawean ternyata dulunya ada Gunung Api Purba. Foto:Tangkapan Layar Instagram@baweanku_

Gempa Bumi Pulau Bawean Jumat (29/3/2024)

  • Magnitudo 4.0, 29-Mar-2024 01:29:36WIB, Lok:5.69LS, 112.43BT (141 km TimurLaut TUBAN-JATIM), Kedlmn:10 Km.
  • Mag:4.6, 29-Mar-2024 04:23:02WIB, Lok:5.73LS, 112.53BT (140 km TimurLaut TUBAN-JATIM), Kedlmn:10 Km
  • Mag:3.2, 29-Mar-2024 04:42:38WIB, Lok:5.68LS, 112.50BT (144 km TimurLaut TUBAN-JATIM), Kedlmn:10 Km.
  • Mag:3.5, 29-Mar-2024 06:47:09WIB, Lok:6.19LS, 112.11BT (78 km TimurLaut TUBAN-JATIM), Kedlmn:10 Km
  • Mag:3.0, 29-Mar-2024 12:20:02WIB, Lok:5.73LS, 112.34BT (133 km TimurLaut TUBAN-JATIM), Kedlmn:10 Km

10 Fakta Gempa Bawean M5.9 dan M6.5 Tanggal 22 Maret 2024

  1. Gempa Bumi kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat sesar aktif dengan mekanisme geser/mendatar (strike-slip) di Laut Jawa.
  2. Gempa bumi merusak dengan dampak kerusakan di Pulau Baweaa, Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan (Madura) dan Banjarbaru.
  3. Gempa Bumi dengan guncangan spektrum luas dirasakan di Banjarmasin, Banjarbaru, Sampit, Balikpapan, Madiun, Demak, Semarang, Temanggung, Solo, Yogyakarta, Kulon Progo, dan Kebumen.
  4. Berdasarkan pemodelan tsunami BMKG, dan monitoring muka laut dari Badan Informasi Geospasial (BIG) di Karimunjawa, Lamongan, dan Tuban menunjukkan gempa bumi Bawean tidak berpotensi tsunami.
  5. Berpusat di Zona Aktivitas Kegempaan rendah (low seismicity).
  6. Berpusat di zona Sesar Tua Pola Meratus, wilayah laut Jawa utara Jawa Timur. Hal ini membuktikan jalur sesar di Laut Jawa masih aktif, sehingga kita harus waspada terhadap sesar aktif dasar laut dekat Pulau Bawean tersebut.
  7. Dipicu reaktivasi sesar tua. Episenter Gempa Bumi Bawean terletak pada jalur Sesar Muria yang berada di laut (Lunt, 2019), yang merupakan bagian dari jalur Sesar Tua Pola Meratus, di mana salah satu jalur sesar Pola Meratus ini diduga mengalami reaktivasi dan memicu gempa.
  8. Memiliki susulan dengan magnitudo lebih besar (M6.5) dari gempa pertama (M5.9), karena asperity (bidang bakal geser di bidang sesar) yang ukurannya lebih besar (M6,5) mengalami pecah belakangan, di antaranya akibat tekanan gempa pertama (M5.9).
  9. Hasil monitoring BMKG hingga Minggu (25/3/2024) pukul 09.00 WIB tercatat sebanyak 263 kali gempa, dengan frekuensi kejadian semakin jarang.
  10. Ancaman gempa merusak di Jawa Timur berasal dari sumber gempa subduksi lempeng/megathrust di selatan, sesar-sesar aktif di daratan, dan sumber-sumber gempa di Laut Jawa di utara Jawa Timur.

 

Bacaan Lainnya

Pos terkait