Lailatul Mubarakah dan Lailatul Qadar: Dua Momentum Penuh Berkah Khas Tarekat Shiddiqiyyah di Bulan Ramadhan

Suasana peringatan Lailatul Mubarakah di Ponpes Majma'al Bahrain Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Rabu (27/3/2024) malam, yang bertepatan dengan malam 17 Ramadhan 1445 H. FOTO: OPSHID MEDIA
JOMBANG—Bagi Tarekat Shiddiqiyyah, ada dua momentum penting yang wajib diperingati secara rutin setiap Ramadhan tiba, yaitu peringatan Lailatul Mubarakah di malam 17 Ramadhan dan peringatan Lailatul Qadar pada malam 27 Ramadhan. Dua malam itu menghadirkan berkah berlimpah.

Jamaah Shiddiqiyyah—yang biasa disebut “warga Shiddiqiyyah”—menghidupkan kedua malam tersebut dengan serangkaian ritual, mulai dari mendengarkan pesan-pesan kebaikan (mauizah hasanah) atau ceramah Sang Mursyid, KH. Moch. Muchtar Mu’thi, memanjatkan doa bersama, hingga mengerjakan shalat sunnah.

Lailatul Mubarakah, bagi Tarekat Shiddiqiyyah, berbeda dengan Lailatul Qadar. “Lailatul Mubarakah adalah peristiwa turunnya Al-Quran dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad Saw.,” jelas salah satu pengurus Organisasi Shiddiqiyyah, Kushartono, dalam keterangan tertulis yang diterima Samudra Fakta, dikutip Jumat (29/3/2024)

Momentum ini, menurut pria yang akrab disapa Kus itu, wajib diperingati rutin setiap tahun, sebagai wujud rasa syukur atas turunnya wahyu pertama—yaitu Surah Al-Alaq ayat 1 – 5—untuk Muhammad bin Abdullah di Gua Hira. Turunnya wahyu ini sekaligus menjadi penanda pengangkatan Muhammad sebagai Nabi Rahmatan Lil ‘Aalamiin atau pembawa rahmat untuk semesta alam.

Bacaan Lainnya

Dan rahmat dari Allah Swt., menurut Kus, “Wajib disyukuri.”

Untuk peringatan Lailatul Mubarakah tahun ini digelar pada Rabu, 27 Maret 2024, bertepatan dengan tanggal 16 Ramadhan atau malam 17 Ramadhan 1445 H, di Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Acara ini tak hanya dihadiri oleh warga Shiddiqiyyah. “Masyarakat umum (yang tidak atau belum berbaiat) juga berbondong-bondong datang,” kata Kus. Mereka datang dengan tujuan menyimak secara langsung mauizah khasanah dari KH. Muchtar Mu’thi—yang mendapat panggilan takzim dari jamaahnya dengan nama Syech Muchtarulloh Almujtaba—sekaligus mencari keberkahan dari malam yang diyakini sakral tersebut.

 

Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, KH. Moch. Muchtar Mu’thi atau Syech Muhtarulloh Al-Mujtaba. FOTO: Dok. OPSHID MEDIA

 

Walhasil, di malam-malam seperti itu Ponpes Shiddiqiyyah dibanjiri manusia dari berbagai kota.

“Kami datang dari Jakarta khusus untuk datang di acara ini,” kata salah seorang jamaah.

Sedangkan peringatan Lailatul Qadr, kata Kushartono, digelar pada malam tanggal 27 Ramadhan. Diadakan untuk mensyukuri turunnya Al-Quran dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah.

Tarekat Shiddiqiyyah meyakini bahwa Lailatul Qadar hadir setiap malam 27 Ramadhan. Salah satu pijakan Tarekat dalam meyakini tanggal tersebut adalah sabda Nabi Muhammad Saw.: “Hendaklah kamu memperoleh Lailatul Qadar pada malam 27 (Ramadhan),” sebagaimana dikutip dari Kitab An-Muawiyah, Shohih, Jami’us Shoghir, bab Alif, halaman 56.1.

Maka dari itu, “Bagi Shiddiqiyyah, malam ini juga perlu dihidupkan, sebagaimana Lailatul Mubarakah setiap malam 17 Ramadhan,” Kus menjelaskan.

Pos terkait