Menurut Agus, gunung api purba di Pulau Bawean tidak hanya satu, yang paling besar adalah gunung api Balibak yang kemudian meledak dan membentuk kaldera berupa Danau Kastoba. Selain itu banyak anak gunung yang lain. Hari ini bisa disaksikan ketika naik kapal menjelang berlabuh, maka akan terlihat banyak bukit di Pulau Bawean.
”Secara geologi tipikal kimia gunung api Balibak berbeda dengan gunung api di Pulau Jawa maupun Pulau Madura. Di Pulau Jawa tidak ada batu marmer seperti di Pulau Bawean. Sedangkan di Pulau Madura batuannya adalah batu kapur semua,” ungkap Agus.
Menurut Agus, keberadaan gunung api purba di Pulau Bawean menyebabkan perairan bagian timur, utara dan barat Pulau Bawean banyak mengandung minyak.
Pulau Gili adalah gunung api yang sudah mati, dilihat dari ciri batuannya. Demikian juga Pulau Selayar juga gunung api. Beberapa lokasi pantai di Pulau Bawean terlihat jejak lava dari letusan gunung api, seperti di Pantai Jhembhengan Desa Telukjati Dawang. Kemudian di Pantai Ria Desa Dekat Agung, di sana banyak ditemui batu apung. ”Hal ini secara geologi menunjukkan di bagian barat Pulau Bawean ada gunung api di bawah laut yang pernah meledak,” tandasnya.
Pantai Mayangkara di Desa Kepuhteluk merupakan pemandangan yang indah dari lereng gunung api purba. Sementara Air Terjun Laccar di Desa Kebun teluk dalam dinding-dindingnya berasal dari lava semua.
Inilah realita yang harus dipahami masyarakat Pulau Bawean. Mereka hidup di kawasan gunung api yang rawan terjadinya gempa bumi. Pergerakan lempeng bumi baik yang menjauh maupun mendekat, bisa sewaktu-waktu memicu gempa bumi.





