Target Energi Hijau Prabowo: Bikin Etanol dari Singkong Mahal, Sampah Kulit Durian Bisa Jadi Alternatif

Kulit durian juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan penghasil bioetanol.(Dok. SF)
Kulit Durian Bisa Jadi Alternatif

Bioetanol berasal dari biomassa yang mengandung gula, pati, dan selulosa. Saat ini masih banyak produsen bioetanol yang menggunakan bahan baku mengandung gula dan pati yang bersumber dari bahan pangan, seperti singkong. Kondisi inilah yang kemungkinan bakal berdampak negatif bagi penyediaan kebutuhan pangan. Di sisi lain, produksi bioetanol menggunakan singkong juga perlu ongkos cukup mahal.

Untuk menghindari dua kendala tersebut, sepertinya perlu dicari bahan baku yang berasal dari limbah agroindustri yang lebih murah, yang mengandung selulosa. Bahan baku yang memenuhi persyaratan itu adalah sampah kulit durian.

Bacaan Lainnya

Menurut tesis yang disusun oleh Jana, L., N. Oktavia, D. dan Wulandari, berjudul The using of durian peels trashes as a potential source of fiber to prevent colorectal cancer–-diterbitkan Universitas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada tahun 2010—kulit durian mempunyai kandungan selulosa 60,45 persen; hemiselulosa 13,09 persen; lignin 15,45 persen;, dan abu 4,35 persen. Karena kandungan itulah kulit durian, menurut tesis di atas, bisa diolah menjadi bioetanol menggunakan proses delignifikasi.

Delignifikasi adalah proses pendahuluan penghilangan lignin dalam industri, memanfaatkan selulosa sebagai substratnya. Dengan dihilangkannya lignin, zat-zat yang tersisa bisa diolah menjadi bioetanol.

Menurut hasil penelitian Dwi Ana dkk., yang ditulis dalam laporan berjudul Pemanfaatan Limbah Hasil Panen Jagung untuk Pembuatan Energi Alternatif yang Ramah Lingkungan–-diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia, Fakultase Teknologi Industri, Institut Teknologi Negeri (ITN) Malang pada tahun 2016—kulit durian yang didelegnifikasi akan meningkat kadar selulosanya, dari 27,5 persen menjadi 69,5 persen. Fakta kimiawi inilah dan nantinya bakal berpengaruh terhadap proses hidrolisis dan fermentasi, untuk memproduksi bioetanol.

Sementara itu, dikutip dari tugas akhir Imam Bukhari, mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, berjudul Pembuatan Bioetanol dari Kulit Durian (Durio Zibethinus Murray) Melalui Proses Hidrolisis dan Fermentasi Serentak (HFS), Juli 2023, pembuatan bioetanol dilakukan melalui proses hidrolisis dan fermentasi.

Laporan penelitian itu menerangkan bahwa, selama ini, metode yang digunakan untuk pembuatan bioetanol  adalah metode separated hydrolysis and fermentation (SHF) dan SHF. Dengan metode ini, proses hidrolisis dan fermentasinya dilakukan secara terpisah, sehingga setiap prosesnya akan mendapatkan kondisi optimum.

Dan menurut Dahnumdkk. (2015)–sebagaimana dikutip oleh tugas akhir Imam Bukhari itu—metode SHF memiliki kelemahan. Misalnya, prosesnya harus menggunakan dua wadah yang berbeda; waktu prosesnya lebih lama; perlu netralisasi jika menggunakan asam untuk hidrolisis, dan laju produksi yang rendah.

Metode HFS hadir untuk mengatasi kelemahan teknologi SHF. Dengan HFS, proses hidrolisis dan fermentasi bisa dilakukan bersamaan secara serentak, menggunakan campuran enzim dan jamur. Keuntungan metode HFS adalah, proses hidrolisis dan fermentasinya dilakukan dalam satu wadah, sehingga dapat berlangsung secara efisien.

Proses hidrolisis bertujuan untuk memecah polisakarida menjadi monosakarida, sehingga dapat langsung difermentasi oleh yeast. Dan menurut Penelitian Deliana dkk. (2014), dengan metode HFS, kadar bioetanol yang dikeluarkan mencapai 6, 05 persen, sementara dengan SHF yanga menghasilkan kadar 4,74 persen.

Dengan mekanisme sebagaimana dijelaskan oleh berbagai penelitian ilmiah itulah kulit durian–yang selama ini hanya berakhir sebagai sampah organik—bisa dimanfaatkan sebagai bahan penghasil bioetanol yang sanga mendukung program energi hijau dari Pemerintah Indonesia.

Dan hal tersebut tentunya peluang emas bagi Indonesia. Pasalnya, negara ini sangat kaya durian, dengan tingkat konsumsi yang cukup tinggi. Dengan demikian, tentu banyak sekali sampah kulit durian yang terbuang.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada tahun 2022, produksi durian di Indonesia mencapai 1,71 juta ton. Jumlah itu naik 26,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya, 2021, yang sebesar 1,35 juta ton. Sedangkan menurut data Statistik Hortikultura Indonesia 2022, produksi Indonesia terpantau dalam tren naik selama 2018 — 2022.

Dan angka tersebut diprediksi makin naik hingga musim durian di awal 2024 ini. Potensi emas yang sangat besar kemungkinannya bakal mendukung program energi hijau, jika dikelola dengan baik oleh pemerintah.◼︎

 

Pos terkait