Target Energi Hijau Prabowo: Bikin Etanol dari Singkong Mahal, Sampah Kulit Durian Bisa Jadi Alternatif

Kulit durian juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan penghasil bioetanol.(Dok. SF)
JAKARTA—Menteri Pertahanan (Menhan) dan Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, menegaskan berkomitmen  membawa Indonesia menuju swasembada energi terbarukan yang bersumber dari tanaman. Dia menyebut kelapa sawit, tebu, hingga singkong yang tumbuh subur di tanah air, sebagai bahan bakunya. Selain bahan-bahan yang disebut Prabowo, rupanya kulit durian pun bisa menjadi pilihan.

“Kita nanti green energy dan kita akan swasembada energi bensin. Dari mana? Dari etanol. Etanol dari mana? Dari tebu dan singkong,” kata Prabowo dalam orasi ilmiah saat Wisuda Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Bandung, dikutip dari Antara, Kamis (29/2/2024).

Prabowo optimistis bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada energi terbarukan dalam waktu yang relatif singkat, serta menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam hal transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. “Artinya nanti BBM kita akan ramah lingkungan, tidak ada polusi dan terbarukan,” kata Prabowo.

Realisasi rencana Prabowo itu, terutama terkait energi hijau, sebenarnya juga sudah mulai ‘dicicil’ PT Pertamina (Persero). Perusahaan minyak negara ini diketahui telah meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Green 95 pada Juli 2023. Harga BBM beroktan 95 ini ditetapkan sebesar Rp13.500 per liter.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pernah mengatakan, pada tahap awal, Pertamax Green 95 dipasarkan melalui 15 SPBU yang tersebar di Jakarta dan Surabaya. Rinciannya, 5 SPBU di Jakarta dan 10 SPBU di Surabaya.

Riva menambahkan, saat ini, untuk produksi bioetanol, Pertamina Patra Niaga bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III dan PT Energi Agro Utama (Enero)—anak usaha dari PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Produksi bioetanol yang tersedia saat ini, kata Riva, menyentuh 30 ribu kiloliter (kl) per tahun.

Riva juga mengatakan bahwa Pertamina berencana menambah campuran bioetanol menjadi 10 persen pada tahun 2026 mendatang. Kata dia, target tersebut bakal tercukupi dari produksi yang ada saat ini, yang mencapai 30 ribu kl per tahun.

“Sepuluh persen ini masih cukup kok dari yang 30 ribu itu tadi,” jelas Riva, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu, 6 Desember 2023.

Ke depannya, menurut Riva, pihaknya akan terus bekerja sama dengan PT PTPN III untuk memproduksi bioetanol. “Sambil nanti kita pengembangan pabrik-pabrik etanol bersama dengan PTPN,” tambahnya.

Riva juga mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menutup kerja sama dengan berbagai perusahaan swasta lainnya untuk mengembangkan bioetanol dalam negeri. “Mungkin nanti perusahaan-perusahaan swasta akan bekerja sama dengan Pertamina,” tandasnya.

Pada tahun 2024 hingga 2025, Pertamina masih fokus pada pengembangan pencampuran bioetanol sebesar 5 persen seperti yang sudah dilakukan. “Di tahun 2024 dan 2025 kita masih fokus ke 5 persen, tetapi nanti di 2026 itu kita akan masuk rencananya ke 10 persen,” ungkap Riva.

Sementara itu, dikutip dari Motor Plus Online, Rabu, 17 Januari 2024, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyampaikan, meski saat ini Pertamina masih menyalurkan Pertalite, namun perusahaan minyak negara ini sudah berencana akan menghapusnya dari  SPBU Pertamina pada tahun ini. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya harga minyak dunia dan penggunaan Pertalite sebagai BBM subsidi yang tidak tepat sasaran.

Namun, kata dia, bukan berarti Pertamina akan lepas tangan tanpa mengadakan penggantinya. Maka dari itulah dibikin Pertamax Green 95. Bisa dibilang posisi oktan dan kualitasnya akan di bawah Pertamax, tetapi di atas Pertalite. Pertamax Green 95 merupakan Pertalite yang dicampurkan bio ethanol sebanyak 7 persen.

Sampai saat ini, sebagian besar bioetanol di Indonesia terbuat dari hasil pengolahan kulit singkong. Pertamina dan Medco telah melakukan uji coba biofuel etanol dari singkong sejak awal tahun 2000-an. Namun, upaya tersebut terkendala oleh kontinuitas bahan baku dan mahalnya biaya produksi.

Menurut peneliti Balai Besar Teknologi Pati BPPT Sigit Setiadi, untuk menghasilkan 1 liter BBM hijau dibutuhkan sekitar 6,5 kg ubi kayu. Inilah yang menjadi hambatan, karena terkait biaya produksi.

Harga singkong dari petani saat ini sekitar 5.000 per kilogram. Jika angka itu dikalikan 6,5, maka bakal ketemu angka Rp32.500 untuk produksi 1 liter BBM—belum biaya produksi, pajak, dan lain-lain.

Mungkin inilah salah satu kendala produksi bioetanol, sehingga BBM hijau masih belum bisa direalisasikan secara optimal dan massal. Akibatnya, Indonesia masih impor BBM untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.

Pos terkait