Pada tahun 1950-an, Bung Karno melihat berbagai bibit penyakit mentalitas mengerogoti anak bangsa. Dalam pidato tanggal 17 Agustus 1957 itu, Sukarno menyebut bahwa masalah mentalitas mulai menghinggapi Bangsa Indonesia, seperti menurunnya kesadaran nasional, kurang percaya diri sebagai bangsa, kurang saling percaya antar-rakyat, dan menipisnya rasa “national dignity”.
Sukarno juga menyebut beberapa permasalahan yang dihadapi bangsa, seperti industrialisasi yang tambal sulam, kekurangan bahan makanan sehingga harus impor, gila-gilaan rock and roll, hingga menurunnya daya cipta sastra. Untuk itulah dia memunculkan gagasan perubahan mentalitas, sebuah gaya hidup baru untuk mengatasi kemandekan revolusi yang menurutnya belum selesai.
Bung Karno memimpikan bangsanya bersemangat layaknya elang perkasa. Dia mencita-citakan rakyatnya menjadi manusia baru berhati putih, berkemauan baja, dan berjiwa api menyala-nyala. Sukarno tak kenal lelah untuk menggembleng manusia Indonesia agar bangun, tegak berdiri, tegap melangkah mewujudkan Indonesia jaya—yang salah satunya dengan menggelorakan suatu Revolusi Mental.
Revolusi Mental, menurut Bung Karno, menghendaki manusia Indonesia untuk menjadi “Manusia Pembina” dengan meninggalkan kemalasan, korupsi, individualisme, egosentrisme, ketamakan, keliaran, kekoboian, kemesuman, keinlanderan, dan menjadi manusia Indonesia seutuhnya.
Jauh sebelum menggelorakan jargon Revolusi Mental, Bung Karno telah merevolusi mentalnya sendiri. Ia menggembleng jiwa-raganya terlebih dahulu untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya, pemimpin bagi rakyatnya, nasionalis unggul, dan penyambung lidah rakyat Indonesia.
Revolusi Mental, tentu saja, tak akan selesai dalam hitungan jam, hari, bulan, atau tahun. Dia adalah proses berkelanjutan. Dibutuhkan komitmen bersama dan harus dilakukan serentak oleh seluruh anak bangsa, terutama bagi para pemimpinnya.
Revolusi mental harus didorong oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan karena dorongan pihak luar, sebagaimana kata Sukarno, “Membaharui mentalitet satu bangsa bukan seperti orang ganti baju.” Gerakan hidup baru dalam revolusi mental tak sekadar tak meludah di sembarang tempat, tak membuang puntung rokok di sembarang tempat; namun gerakan yang menggembleng manusia Indonesia yang baru, yang berhati nurani, bermental baja, bersemangat, dan berjiwa api yang menyala-nyala.
Bung Karno menyebut Revolusi Mental sebagai prasyarat utama dalam membentuk national building. Pembentukan national building itu bakal gagal tanpa Revolusi Mental. Keduanya saling melengkapi. “National building membutuhkan bantuan Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah!” kata Sukarno.
Kenapa seruan ini tak juga mewujud dalam realisasi? Menurut Guruh Sukarno Putra, dalam kata pengantar buku Bung Karno dan Revolusi Mental , itu karena ada dua permasalahan dalam proyek Revolusi Mental. Masalah itu adalah semangat kesejarahan dan perubahan.





