Menurut Sholeh, manuver Cak Imin merupakan reaksi atas sikap Prabowo, yang mengubah nama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya menjadi Koalisi Indonesia Maju (KIM). “Serta jawaban atas hilangnya golden ticket untuknya. Langkah ini adalah deklarasi atas ‘kemenangan’ yang terlalu dini dari Cak Imin untuk Prabowo secara khusus,” imbuh Sholeh.
Sholeh menambahkan, bisa saja Cak Imin menyebut dirinya ‘nothing to lose’, yang sekadar mencantumkan namanya dalam kertas suara Pilpres 2024. “Namun, kontestasi di era digital dengan populasi generasi milenial dominan ini, gerak langkah Cak Imin termaknai sangat positif,” katanya.
Sholeh menyebut, ‘kenekatan’ Cak Imin lompat pagar bisa membelah pasangan capres-cawapres menjadi empat. Keempatnya adalah Prabowo-Erick Thohir, yang diusung Gerindra, PBB, Golkar, dan PAN; koalisi NasDem-PKB yang mengusung Anies Baswedan- Cak Imin; dan dua pasangan lain—yang meski belum disebut-sebut, tetapi konstruksinya telah tampak—yakni Ganjar Pranowo, bisa jadi dengan Yaqut Cholil Qoumas, serta Sandiaga Uno-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Duet Anies-Muhaimin sendiri kemungkinan menjadi pasangan dengan kekuatan besar, karena dua kubu yang memiliki massa konkret bertemu dalam koalisi itu. Anies mewakili oposisi, Islam moderat, dan intelektual; sementara Muhaimin berangkat dari NU organik, Islam tradisional, dan representasi Jawa.
Sementara itu, menurtu Sholeh, pasangan Prabowo-Erick adalah perahu kosong. Sebab, kata Sholeh, pemilih PAN sejatinya adalah die hard-nya Anies. Ditambah lagi ketidakjelasan sikap politik Pranowo. Erick malah dinilai lebih parah:‘dijual’ sebagai NU tetapi tidak memiliki akar kultural. Namun, ET didorong oleh PAN—yang kekuatan masanya masih mengambang. “Pasangan (Prabowo-Erick Thohir) ini sangat abu-abu,” kata Sholeh.
Menurut Sholeh, Nahdiyin harusnya bergembira dengan masuknya nama Muhaimin sebagai pasangan Anies Baswedan. “Itu adalah kemenangan NU, setelah di beberapa simulasi tokoh-tokohnya dikerdilkan, diabaikan,” katanya.
Dia juga menilai Muhaimin berhasil mengemban tugas yang dibebankan oleh para kiai kepadanya; dan itu menjadi bukti bahwa dia begitu menjaga muruah NU. Cak Imin juga dianggap telah ‘menampar’ lembaga survei. Kata Sholeh, Cak Imin sangat yakin bahwa PKB dan dirinya kuat, meski hasil survei menyimpulkan lain.
“Cak Imin secara tidak langsung menawarkan pola baru kepemiluan. Pola baru tersebut adalah bahwa seorang kandidat tidak harus memenuhi ‘syarat-rukun’ produk lembaga survei,” tutur Sholeh.
Nama Cak Imin memang digadang-gadang bakal menjadi kandidat cawapres pada Pemilu tahun depan. Merujuk pada berbagai survei, rata-rata elektabilitas Cak Imin ada di kisaran 2,1%. Mantan Menteri Tenaga Kerja tersebut masih kalah dibandingkan dengan Erick Thohir, AHY, ataupun Ridwan Kamil.





