Menurut Acep, Tjitjik tidak memiliki pikiran tentang bagaimana hubungan pendidikan dengan pembangunan bangsa dan pembangunan manusia. “Ia hanya tahu hal-hal teknis tentang kerja. Pendidikan adalah lahan kerjanya, dan ia bekerja tanpa berpikir,” ujarnya.
Ekspresi Tjitjik itu, kata Acep, juga bisa merepresentasikan lembaganya, yaitu Kemendikbudristek, secara umum. Terlebih, menurutnya, kecenderungan sistem pendidikan hari ini condong ke industri.
“Ini setback ke repelita pertama Orde Baru, di mana pendidikan diposisikan sebagai investasi keterampilan. Pendidikan kita hari ini adalah pendidikan yang mengikuti arus, bukan yang menata, apalagi melawan arus. Ngawur,” kata Acep.
Psikolog Irma Gustiana juga sangat menyayangkan pernyataaan Tjitjik. Irma menilai, pernyataan tersebut dapat membuat anak-anak dan keluarga merasa terpinggirkan dan tidak percaya diri untuk bersaing dalam dunia akademis maupun profesional.
“Rasa putus asa bisa mengurangi jumlah siswa yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan mereka,” ucap Irma, dikutip dari Inilah.com , Ahad (19/5/2024).
Menurut hemat Irma, pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa pendidikan tinggi hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial, sehingga memarginalkan mereka yang punya tingkat ekonomi rendah.
“Berpotensi mengurangi semangat dan motivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” kata Irma.





