JOMBANG—Bagi anak-anak dan remaja yang belum mendapatkan kesempatan bersekolah di THGB, tapi ingin juga mendapatkan ilmu yang diajarkan di sana, mereka bisa ‘menempuh jalur alternatif’, dengan mengikuti Bustan Tsamrotul Qolbis Salim (BTQ). Sama-sama mengajarkan semangat cinta Tanah Air, hanya saja dalam versi yang ‘lebih ringan’ atau ‘lite version’.
BTQ dibentuk oleh pengasuh Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Kiai Moch. Mukhtar Mu’thi, ulama tasawuf dari Jombang, Jawa Timur.
Kiai Mukhtar membentuk BTQ pada tahun 2010. Hingga Rabu (15/05/2024) sudah ada 190 cabang BTQ yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai informasi, nama BTQ memiliki makna khusus dan mendalam. Bustan maknanya “taman”, tsamro maknanya “kebun”, sementara qolbis salim bermakna “hati yang selamat”.
Hampir sama dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang sudah dikenal masyarakat luas, BTQ juga menjadi tempat baca-tulis Al-Qur’an bagi anak-anak. Selain itu, BTQ juga mengajarkan syariat Islam. Namun, BTQ mengambil langkah berbeda dari TPA pada umumnya.
“Dalam BTQ ada tiga pokok pelajaran yang disampaikan, yaitu baca-tulis Qur’an, chubbul wathon atau cinta tanah air, dan akhlaqul karimah,” kata Ulil Abshor, dari Departemen Pendidikan Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah yang menauingi BTQ, Jumat (10/5/2023).
“Tujuannya agar anak tidak hanya pandai baca-tulis Qur’an, tapi juga berjiwa Al Qur’an,” lanjut Ulil.

Guru yang mengajar di BTQ, menurut Ulil, diberi bimbingan atau pendidikan dan latihan (diklat) khusus tentang bagaimana caranya agar apa yang disampaikan ber-atsar (membekas—red.) pada jiwa peserta didiknya.
“Diharapkan ketika anak berjiwa Al-Qur’an, maka perilakunya sesuai Al-Qur’an, berjiwa cinta Tanah Air, sehingga memfaktakan cintanya, berjiwa akhlaqul karimah. Dalam kehidupan sehari-harinya senantiasa dalam akhlaqul karimah,” imbuh Ulil.
Dalam buku Tjita-Tjita Perjoengan, yang ditulis salah satu pejuang kemerdekaan, dr. Abu Hanifah Datuak Maharajo Ameh, di Indonesia ada tiga benteng Islam, yaitu: kaum tarikat, apa pun namanya; pesantren-pesantren yang dipimpin Wali Songo dan ulama-ulama besar; dan musala yang dipimpin oleh ulama yang tinggi ilmunya. BTQ, yang didirikan Kiai Mukhtar, merupakan bagian dari benteng itu.





