Para Gus di Pangkuan Prabowo – Gibran

Gus berikutnya yang juga mendukung Prabowo-Gibran adalah Zahrul Azhar Asumta, yang biasa dipanggil Gus Hans. Dia adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum Jombang. Putra Kiai As’ad Umar, Pengasuh ke-7 Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Intelektual muda NU ini menjadi bagian pengantar pasangan Prabowo-Gibran saat mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu, 25 Oktober 2023.

Hans memiliki rekam jejak sebagai tim pemenangan Khofifah-Emil Dardak dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2019. Dia dikenal sebagai negosiator handal.

Bacaan Lainnya

Hans mengaku sangat mendukung Gibran maju sebagai bacawapres setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan batas usia capres-cawapres. Menurut dia, kehadiran Gibran merupakan wujud demokrasi yang sesungguhnya, karena tidak membatasi partisipasi anak muda dalam konstelasi kepemimpinan nasional.

Alhamdulillah. Tidak ada kata lain selain alhamdulillah terpilihnya sosok anak muda yang bisa berkontestasi untuk membangun negeri ini. Saya terima kasih kepada Pak Prabowo yang telah mempercayakan anak muda sebagai pendampingnya, dan ini bisa menyehatkan kehidupan berpolitik di Indonesia, terutama kepada anak muda. Ada optimisme bahwa siapa pun, dalam usia berapa pun, asal dia matang, dia memiliki hak yang sama dalam membangun negeri ini,” kata Hans, beberapa waktu lalu.

Soal isu politik dinasti, menurut Hans, Indonesia adalah negara demokrasi yang menerapkan sistem pemilihan umum dalam regenerasi pemimpin. Sementara dinasti politik artinya penunjukan pemimpin yang tidak melalui proses pemilihan umum atau ditentukan sepihak.

“Tidak relevan kita bicara politik dinasti di negara demokrasi, kecuali kita tinggal di Korea Utara yang (kepemimpinannya) habis dari bapaknya ke anaknya, tanpa proses pemilihan dan ditentukan sendiri. Itu bisa jadi politik dinasti. Di Singapura, di Kanada, PM-nya kan juga mantan anak Presiden,” kata Hans.

“Di negara yang mengklaim dirinya paling demokrasi, contohnya Amerika, itu ada George Bush dan George W. Bush. Apa lalu dicap sebagai politik dinasti? Ya enggak lah. Kecuali tidak ada proses pemilihan. Kita fair-fair-an saja, berapa banyak anak dari politisi, pemimpin negara tidak bisa meneruskan kebaikan yang dilakukan orang tuanya, yang justru gagal mencapai karier karena narkoba dan sebagainya? Kalau misalnya ada orang tua yang baik, dan dilanjut dengan hal-hal baik oleh anaknya, kan malah bagus,” imbuhnya.

Hans juga menilai jika masing-masing pasangan calon memiliki darah NU. “Di tim Anies ada Muhaimin, yang merupakan NU dzurriyah; di tim Ganjar ada Mahfud MD yang menurut saya NU intelektual; dan ketiga, Gibran NU kultural, yang kesehariannya menggunakan amaliyah-amaliyah  NU. Jumlah kultural jauh lebih banyak daripada jumlah struktural,” kata Hans.

Pos terkait