Para Gus di Pangkuan Prabowo – Gibran

Gus di barisan Prabowo-Gibran selanjutnya adalah Gus Syaifuddin, ketua Forum Ulama Santri Indonesia atau FUSI. Forum ini telah menyatakan sikap mendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

”Gibran itu repsentatif santri Indonesia, karena beliau santrinya KH. Abdul Karim, yang akrab disapa Gus Karim, yang mengajari Jokowi serta keluarga soal tafsir Al-Quran dan fikih. Serta Gibran belajar dengan KH.Abdul Karim dari Ponpes Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo. Nama Gus Karim tidak asing di telinga masyarakat Solo dan sekitarnya. Gus Karim merupakan guru ngaji Jokowi dan Gibran,” kata Syaifuddin.

Deklarasi dukungan untuk Prabowo dan juga disampaikan para Jaringan Kiai, Ustaz, dan Santri atau Jakusa Indonesia. Ketua Umum Jakusa Indonesia adalah Eko Ahmadi, yang akrab dipanggul Gus Eko.

Bacaan Lainnya

Menurut Eko, ada 21 kiai dan nyai utusan dari pesantren di wilayah Kabupaten Cirebon yang mendoakan dan mendeklarasikan dukungan bagi Prabowo-Gibran pada Ahad (12/11) lalu.

Eko berharap agar ke depannya pemerintah Indonesia, ketika dipimpin Prabowo-Gibran, bisa membawa aspirasi para kiai. “Utamanya yang telah disuarakan Gibran, terkait dana abadi pesantren. Sebagai supportingkegiatan para ulama,” ujarnya.

Jakusa dideklarasikan di Cirebon. Ke depannya, kata Eko, Jakusa akan terus diperluas ke berbagai provinis maupun kabupaten/kota lain di Indonesia.

_____

Fenomena dukungan para gus untuk untuk Prabowo-Gibran ini—maupun untuk kontestan lainnya—menjelaskan bahwa pesantren sebagai subkultur selalu menjadi daya tarik bagi para pemburu suara di setiap musim kampanye. Baik itu kampanye pemilu lokal maupun nasional, seperti Pilpres.

Dari sisi pesantrennya sendiri, barangkali sudah tidak zamannya lagi mereka tak acuh terhadap politik di Indonesia. Dan jika ada kiai dan gus terjun di politik praktis, itu merupakan hak personal atau pribadi masing-masing sebagai warga negara yang memang memiliki hak berpolitik.

Barangkali politik adalah salah satu bagian dari syariat—as-siyasatu juzun min ajzais syariah—yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan nasib umat atau li istishlahil ummah. Politik sebagai wahana beramar makruf.

Semoga para gus dan organisasi relawannya konsisten dan teguh menjalankan politik kebangsaan—bukanpolitik yang mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

—Wijdan —

FOTO: Gus Miftah, Habib Luthfi bin Yahya, dan Prabowo Subianto. (Dok. Istimewa)

Pos terkait