Keteladanan Wali Songo: Prioritaskan Umat di Atas Gelar Haji

Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji. Foto:Canva

Ia memiliki kehendak untuk menjalankan ibadah haji. Namun siapa sangka, seorang ulama senior pada saat itu, Maulana Maghribi, meminta Sunan Kalijaga untuk kembali Jawa. Raden Sahid tidak diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan ibadah haji. Sungguh permintaan yang merisaukan hati. Siapapun umat Islam entah wong cilik, santri, atau kiai, pasti ingin mencium Ka’bah sepenuh hati.

Sunan Kalijaga yang terkenal kearifannya mendengarkan larangan Maulana Maghribi dengan hati yang lapang. Maulana Maghribi beralasan, jika Sunan Kalijaga tetap pergi haji maka masyarakat Jawa akan keluar Islam atau kembali kafir karena kerajaan Demak pada saat itu masih dalam transisi. Runtuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan kekacauan dan kerusuhan di mana-mana.

Bacaan Lainnya

Maulana Maghribi berkata kepada Sunan Kalijaga, kalau Makkah (rumah Allah) yang asli itu ada di dalam diri sendiri. Baitullah (Ka’bah) yang ada di Makkah itu hanyalah ‘batu peninggalan Nabi Ibrahim.’ Dengan demikian, ibadah haji buka hanya sekadar perjalanan fisik ke Makkah. Akan tetapi, ibadah haji adalah ibadah metafisik-spiritual.

Seseorang akan sampai di “Makkah sejati” manakala sanggup menjalani kematian dalam kehidupan (mati sajroning urip), dan bisa membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Dalam versi lain, dikisahkan bahwa yang melarang Sunan Kalijaga berhaji adalah Nabi Khidir as.

Ketika Sunan Kalijaga berada di tengah laut dalam sebuah perjalanan menuju ke Makkah, tiba-tiba Nabi Khidir as. menghentikannya. Segera saja Nabi Khidir as. memberikan nasihat kepada Sunan Kalijaga agar tidak usah melanjutkan perjalanannya ke Makkah jika tidak mengetahui apa yang akan dilaksanakannya selama tinggal di sana. Cerita ini terekam dalam Suluk Linglung.

Sunan Kalijaga memutuskan kembali ke Jawa dan berdakwah di sana. Daripada sekadar melihat Ka’bah bikinan Nabi Ibrahim secara zhahir, yang justru akan rentan menjadi berhala di hati jika terus terbayang-bayang. Alangkah baiknya engkau ajarkan ilmumu kepada masyarakat di Tanah Jawa. Demikian nasihat dari guru barunya.

Sunan Kalijaga  lantas menuruti kembali ke Jawa dan memutuskan untuk mengawali dakwah di daerah Cirebon, tepatnya di Desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk sekitar, termasuk Indramayu dan Pamanukan.

Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga Bab IV bait I, yang ditulis oleh seorang pujangga wanita cucu R. Ng. Ronggowarsito, yaitu Iman Anom, pada tahun 1884M (ditulis sekitar 300 tahun setelah masa kehidupan Sunan Kalijaga) disebutkan: “Lamun sira munggah kaji,maring Mekah thuke ana apa,hya Mekah pan tilas bae,Nabi Ibrahim kruhun,ingkang yasa kang ponang mesjid,miwah tilase Ka’bah,kang arupa watu,gumantung tanpa canthelan,apa iku kang sedya sira bekteni,dadi mangan brahala”.

Artinya: “Jika engkau hendak pergi haji ke Makkah, apa hasilnya? Bukankah Makkah itu hanya sebuah petilasan (peninggalan sejarah) dari yang mulia Nabi Ibrahim yang membangun masjid serta  petilasan yang disebut Ka’bah yang berupa batu tergantung tanpa gantungan apa seperti itu yang hendak engkau sembah menjadi makan berhala.”

Pos terkait